Jabarpos.id – Fenomena unik sekaligus memprihatinkan tengah terjadi di pasar domestik, di mana harga cabai melonjak drastis hingga menyamai harga daging sapi. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi otoritas moneter karena dianggap memberikan tekanan besar terhadap inflasi pangan atau volatile food inflation di Indonesia.
Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa lonjakan harga sejumlah komoditas pangan menjadi tantangan nyata dalam menjaga stabilitannya. Meski secara keseluruhan inflasi nasional masih berada dalam rentang target yang ditetapkan, yakni 2,5 persen plus minus 1 persen, namun gejolak harga pada kelompok pangan tetap menjadi ancaman yang harus diwaspadai.
Dalam keterangannya pada acara Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) KADIN di Jakarta, Destry menjelaskan bahwa meskipun angka inflasi tahunan masih terkendali, terdapat tekanan kuat pada komponen harga bergejolak. Berdasarkan data, inflasi pada komponen ini sempat menyentuh angka 5,03 persen secara tahunan.
Also Read
"Alhamdulillah, inflasi secara umum masih bisa kita kendalikan. Namun, tantangan besar yang kita hadapi saat ini adalah inflasi pangan atau volatile food inflation," ujar Destry dalam keterangannya.
Menurut Destry, ada beberapa komoditas utama yang menjadi motor penggerak kenaikan harga, di antaranya adalah daging ayam ras, beras, daging sapi, dan yang paling mencolok adalah cabai rawit. Ia memberikan catatan khusus mengenai harga cabai yang mengalami kenaikan luar biasa hingga harganya kini sejajar dengan harga daging sapi per kilogramnya.
Selain cabai, persoalan beras juga menjadi sorotan tajam. Menariknya, lonjakan harga beras bukan disebabkan oleh kelangkaan stok di tingkat nasional. Destry mengungkapkan bahwa stok beras saat ini sebenarnya sangat melimpah, bahkan mencapai angka 4,9 juta ton yang merupakan jumlah tertinggi dalam sejarah.
"Masalah utama pada beras sebenarnya terletak pada distribusi. Stok kita sangat banyak, bahkan mencapai level tertinggi, namun tampaknya ada kendala dalam proses distribusinya yang perlu segera diperbaiki," jelasnya.
Lebih lanjut, Destry menekankan bahwa Bank Indonesia tidak bisa bekerja sendirian dalam mengatasi persoalan ini. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan peran dalam pengendalian inflasi. Bank Indonesia memiliki peran utama dalam mengendalikan inflasi dari sisi permintaan (demand side), sementara lonjakan harga pangan lebih banyak dipengaruhi oleh gangguan pada sisi pasokan (supply side).
Oleh karena itu, diperlukan orkestrasi yang kuat dan koordinasi lintas sektoral antara pemerintah, kementerian, serta lembaga terkait lainnya untuk memastikan pasokan pangan tetap lancar hingga ke tangan konsumen.
"Hal ini sudah kami sampaikan kepada Bapak Presiden. Bank Indonesia tidak mungkin menangani masalah pasokan pangan ini sendirian. Perlu koordinasi yang baik untuk menyelesaikan persoalan inflasi pangan yang tinggi ini," tutup Destry. Melalui sinergi antar lembaga, diharapkan stabilitas harga pangan dapat kembali terjaga sehingga tidak terus-menerus membebani daya beli masyarakat.





