Jabarpos.id – Pasar modal Indonesia tengah menghadapi tekanan hebat pada perdagangan sesi I hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penurunan yang cukup signifikan, merosot sebesar 1,29% atau setara dengan 65,62 poin. Saat penutupan sesi pertama berakhir, indeks berada di level 5.032,44.
Gejolak pasar sudah mulai terasa sejak bel pembukaan perdagangan berbunyi. Meski sempat menunjukkan optimisme dengan menyentuh level tertinggi harian di angka 5.116,01 pada menit-menit awal, euforia tersebut tidak bertahan lama. Tekanan jual yang masif segera mengambil alih kendali pasar, menyeret indeks ke zona merah.
Kondisi semakin mengkhawatirkan pada rentang pukul 09.50 hingga 10.00 WIB. IHSG terjun bebas hingga menyentuh titik terendah harian di level 4.979,34. Angka ini sangat krusial karena indeks sempat menembus di bawah level psikologis 5.000, yang memicu kekhawatiran para investor. Rentang fluktuasi yang sangat lebar, mencapai 136 poin dari titik tertinggi ke terendah, menunjukkan volatilitas pasar yang sangat tinggi.
Also Read
Baru menjelang tengah hari, tepatnya sekitar pukul 10.00 WIB, indeks mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan secara perlahan. IHSG bergerak dalam rentang konsolidasi di area 5.000 hingga 5.030. Hingga menjelang penutupan sesi I pada pukul 11.30 WIB, indeks berhasil merangkak naik ke level 5.032, atau sekitar 53 poin di atas titik nadirnya. Adapun nilai transaksi yang tercatat mencapai Rp5,6 triliun dengan volume perdagangan sebesar 242,53 juta lot.
Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi sentimen global yang cukup berat. Salah satu faktor utamanya adalah rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang melonjak 0,5% secara bulanan. Kenaikan ini merupakan yang tertinggi dalam enam bulan terakhir, didorong oleh lonjakan harga energi dan bensin. Data ini menjadi perhatian serius karena merupakan acuan utama bagi Federal Reserve dalam menentukan kebijakan suku bunga.
Selain itu, kondisi ekonomi AS yang tumbuh kuat sebesar 3,4% pada kuartal III-2026 juga memberikan tekanan tersendiri bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) memberikan sinyal bahwa kebijakan suku bunga domestik tidak akan secara otomatis mengikuti langkah The Fed, melainkan akan sangat bergantung pada stabilitas ekonomi dalam negeri dan kondisi rupiah.
Di tengah ketidakpastian ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) juga melakukan langkah strategis dengan menghapus lima saham dari daftar short selling untuk periode November 2026, yang mencakup saham-saham blue chip seperti BBCA, ASII, hingga INDF. Para pelaku pasar kini tengah menanti keputusan suku bunga dari Bank of Japan (BOJ) serta rilis data PDB Zona Euro yang diprediksi akan memberikan arah baru bagi pergerakan pasar global.





