Jabarpos.id – Pasar modal Indonesia menunjukkan performa yang cukup impresif pada perdagangan Kamis (5/11/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencatatkan lonjakan signifikan dengan menutup perdagangan di level 5.030,26. Kenaikan ini setara dengan pertumbuhan sebesar 110,49 poin atau meroket sekitar 2,25 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) terpantau sangat dinamis sepanjang hari tersebut. Berdasarkan data transaksi, volume perdagangan menyentuh angka 212,92 juta lot. Sementara itu, nilai transaksi yang berputar di pasar mencapai Rp9.056,34 miliar atau jika dibulatkan menyentuh angka Rp9,06 triliun. Angka ini menunjukkan antusiasme pelaku pasar yang tetap tinggi meskipun kondisi global terus fluktuatif.
Namun, di balik penguatan indeks yang cukup tajam, terdapat fenomena menarik yang terjadi pada pergerakan investor asing. Alih-alih ikut memborong saham untuk mendorong kenaikan indeks, investor mancanegara justru tercatat melakukan aksi jual bersih atau net foreign sell. Pada sesi kedua perdagangan Kamis tersebut, investor asing mencatatkan angka penjualan bersih sebesar Rp65,5 miliar di seluruh pasar.
Also Read
Merujuk pada data dari Siminvest, nilai pembelian oleh investor asing (foreign buy) berada di angka Rp3,4 triliun. Di sisi lain, nilai penjualan mereka (foreign sell) justru lebih tinggi, yakni mencapai Rp3,5 triliun. Ketimpangan ini menjadi catatan penting bagi para pelaku pasar untuk memperhatikan arah aliran dana asing ke depan.
Menariknya, meskipun IHSG bergerak ke zona hijau, sejumlah saham berkapitalisasi besar justru menjadi incaran para investor asing untuk dilepas. Sektor perbankan menjadi yang paling terdampak oleh aksi jual ini. Dua raksasa perbankan negara, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), mencatatkan angka penjualan bersih yang cukup masif, masing-masing sebesar Rp176 miliar dan Rp172 miliar.
Selain sektor perbankan, sektor energi dan industri juga turut merasakan tekanan dari aksi jual asing. Beberapa saham yang masuk dalam daftar antrean jual antara lain PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) dengan nilai Rp46 miliar, serta PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) senilai Rp36 miliar.
Daftar saham lain yang juga dilepas oleh investor asing meliputi PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) sebesar Rp32 miliar, PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) senilai Rp32 miliar, dan PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) sebesar Rp30 miliar. Tak ketinggalan, PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) senilai Rp24 miliar, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) sebesar Rp21 miliar, serta PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) dengan nilai Rp16 miliar.
Fenomena ini menunjukkan adanya divergensi antara pergerakan indeks secara keseluruhan dengan arus modal asing. Meskipun indeks berhasil menembus level psikologis 5.000, aksi ambil untung atau profit taking oleh investor asing pada saham-saham blue chip perlu diwaspadai oleh para investor domestik agar tetap berhati-hati dalam menyusun strategi investasi.






