Eks Menlu Singapura Borong Saham Wilmar

Author Image

Endang Wulansari

7 November 2026, 21:31 WIB

Jabarpos.id – Kabar mengejutkan datang dari dunia korporasi dan pasar modal Asia Tenggara. Mantan Menteri Luar Negeri Singapura, George Yeo, dilaporkan melakukan aksi beli besar-besaran terhadap saham raksasa agribisnis, Wilmar International. Langkah strategis ini dilakukan di tengah situasi yang cukup menantang bagi perusahaan tersebut.

Berdasarkan laporan dokumen yang disampaikan kepada Bursa Efek Singapura, Yeo telah memborong sebanyak 100.000 lembar saham Wilmar. Transaksi yang dilakukan di pasar terbuka pada awal November ini menelan biaya sekitar S$297.000 atau jika dikonversikan ke dalam rupiah mencapai angka fantastis, yakni sekitar Rp4,19 miliar. Dengan tambahan kepemilikan ini, total saham yang dikuasai oleh Yeo di perusahaan agribisnis tersebut kini melonjak menjadi lebih dari 1 juta lembar.

Eks Menlu Singapura Borong Saham Wilmar
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Menariknya, aksi borong saham ini dilakukan saat performa harga saham Wilmar sedang mengalami tekanan hebat. Dalam kurun waktu satu bulan terakhir, nilai saham perusahaan ini dilaporkan merosot tajam hingga lebih dari 14 persen. Penurunan ini bukan tanpa alasan, melainkan dipicu oleh isu lingkungan yang sedang menjadi sorotan tajam otoritas di Singapura.

Wilmar saat ini tengah berada di bawah radar Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura (NEA). Perusahaan tersebut, bersama sembilan perusahaan lainnya, tengah diperiksa terkait dugaan keterkaitan dengan kebakaran lahan di Indonesia yang memicu kabut asap lintas batas. Pemerintah Singapura melalui NEA telah meminta klarifikasi mendalam mengenai hubungan korporasi, kepemilikan konsesi lahan di Indonesia, hingga langkah nyata perusahaan dalam pencegahan kebakaran hutan.

Bahkan, CEO Wilmar, Kuok Khoon Hong, dilaporkan telah menghadiri pertemuan tertutup dengan pemerintah Singapura pada akhir Oktober lalu. Menanggapi tekanan tersebut, pihak Wilmar menyatakan komitmennya untuk bersikap kooperatif. Perusahaan telah menunjuk Control Risks Group untuk melakukan penilaian independen guna memastikan apakah mereka terlibat dalam masalah kabut asap tersebut.

Wilmar juga menegaskan telah menyerahkan dokumen tahap pertama sebagai bentuk kepatuhan terhadap Undang-Undang Polusi Kabut Asap Lintas Batas. Dalam keterangannya, perusahaan mengakui pernah menjual pupuk dan bahan bakar diesel kepada beberapa perusahaan yang diidentifikasi oleh NEA terkait masalah kabut asap, dengan nilai pendapatan mencapai ratusan miliar rupiah pada tahun fiskik 2025.

Langkah George Yeo yang justru menambah kepemilikan saham di tengah badai isu lingkungan ini dianggap sebagai sinyal kepercayaan. Sebagai sosok yang bergabung dalam dewan direksi Wilmar sebagai direktur independen sejak April 2024, Yeo memiliki rekam jejak yang kuat, termasuk pengalaman sebagai diplomat senior dan eksekutif di grup Kerry. Mengingat Wilmar dan Kerry berada di bawah kendali keluarga Kuok, aksi beli ini menunjukkan optimisme jangka panjang terhadap stabilitas perusahaan di masa depan.

Related Post