Jabarpos.id, Jakarta – Kabar mengejutkan datang dari Eropa, lembaga pemeringkat kredit global Standard & Poor’s (S&P) Global secara tiba-tiba menurunkan peringkat kredit Prancis dari AA-/A-1+ menjadi A+/A-1. Langkah ini menimbulkan pertanyaan besar, mengingat Prancis adalah negara dengan ekonomi terbesar kedua di zona euro.
Penurunan peringkat ini terbilang tidak biasa karena lembaga pemeringkat jarang melakukan perubahan di luar jadwal pembaruan yang telah ditetapkan. Hal ini mengindikasikan bahwa ketidakstabilan politik di Prancis memiliki dampak signifikan terhadap risiko keuangan negara tersebut.

Keputusan S&P ini diambil setelah pekan yang penuh gejolak, di mana Perdana Menteri Sebastien Lecornu berjanji untuk menangguhkan reformasi pensiun tahun 2023 dan menghadapi dua mosi tidak percaya. "Kami memperkirakan ketidakpastian kebijakan akan memengaruhi perekonomian Prancis, menghambat aktivitas investasi dan konsumsi swasta, dan pada akhirnya pertumbuhan ekonomi," demikian pernyataan lembaga pemeringkat tersebut seperti dikutip jabarpos.id dari Reuters.
Mantan Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu memang berhasil selamat dari dua mosi tidak percaya di parlemen. Namun, keberhasilan ini harus dibayar dengan penangguhan reformasi pensiun yang digagas Presiden Emmanuel Macron untuk mendapatkan dukungan dari anggota parlemen Sosialis.
Anggaran 2026 yang diajukan Lecornu juga diperkirakan akan menghadapi tantangan berat di parlemen Prancis yang terpecah belah. Menanggapi penurunan peringkat ini, Menteri Keuangan Roland Lescure menekankan bahwa pemerintah dan parlemen memiliki tanggung jawab kolektif untuk meloloskan anggaran pada akhir tahun. Tujuannya adalah memastikan defisit fiskal sesuai dengan batas atas Uni Eropa, yaitu 3% dari PDB pada tahun 2029.
S&P menyatakan bahwa pengesahan anggaran pada akhir tahun akan memberikan kejelasan yang lebih baik mengenai bagaimana Prancis akan mengelola beban utangnya yang terus meningkat. Utang tersebut diproyeksikan akan naik menjadi 121% dari PDB pada tahun 2028, dibandingkan dengan 112% pada akhir tahun 2024.
"Namun demikian, dalam pandangan kami, ketidakpastian pada keuangan publik tetap meningkat menjelang pemilihan presiden 2027," kata S&P. Meskipun demikian, lembaga pemeringkat ini merevisi prospek negara ini dari ‘negatif’ menjadi ‘stabil’, dengan alasan bahwa prospek ‘stabil’ menyeimbangkan kenaikan utang pemerintah dan konsensus politik yang lemah pada laju konsolidasi anggaran dengan kekuatan kredit Prancis.





