Beranda / Berita / Data Center ‘Overheat’, Pasar Keuangan Global Sempat Tersendat

Data Center ‘Overheat’, Pasar Keuangan Global Sempat Tersendat

Data Center 'Overheat', Pasar Keuangan Global Sempat Tersendat

JABARPOS.ID – Insiden teknis di pusat data CME Group di Chicago menyebabkan perdagangan kontrak berjangka global terhenti lebih dari 10 jam, Kamis malam hingga Jumat pagi waktu setempat. Melonjaknya suhu di dalam fasilitas data center di Aurora, Illinois, hingga mencapai 49 derajat Celsius akibat kegagalan sistem pendingin udara menjadi penyebabnya.

CME Group, operator bursa yang mengelola instrumen keuangan paling aktif diperdagangkan di dunia, termasuk futures terkait indeks saham AS, obligasi Treasury, dan minyak mentah, mengalami pemadaman yang menghentikan aktivitas perdagangan kontrak-kontrak kunci tersebut sejak larut malam Thanksgiving hingga satu jam sebelum Wall Street dibuka pada Jumat pagi.

Data Center 'Overheat', Pasar Keuangan Global Sempat Tersendat
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Insiden ini memicu kekhawatiran tentang kerentanan ekonomi digital, serupa dengan pemadaman yang terjadi baru-baru ini di Amazon Web Services dan Cloudflare yang melumpuhkan sebagian besar internet. Meskipun perdagangan saham dan obligasi yang mendasari kontrak futures tetap berjalan, investor kehilangan ruang gerak dan kesulitan memperkirakan pergerakan pasar AS pada sesi terakhir bulan tersebut.

Baca juga:  Rahasia Raup Cuan: Intip Modal Awal Alfamart dan Estimasi Balik Modal!

Pasar futures AS sangat terkonsentrasi di CME, yang menangani sebagian besar volume perdagangan di area kunci seperti kontrak suku bunga dan indeks saham. Hal ini menjadikannya titik kegagalan tunggal yang krusial bagi pasar global.

CME menyalahkan pemadaman pada masalah pendinginan di pusat perdagangan elektronik utama di Aurora, Illinois. Suhu di fasilitas tersebut melonjak setelah sistem AC gagal berfungsi, padahal standar industri menetapkan suhu pusat data harus dijaga antara 64-81 derajat Fahrenheit.

Baca juga:  Laba Emiten Nikel DKFT Meroket, Ada Apa di Balik Angka Fantastis Ini?

Pusat data Aurora dioperasikan oleh CyrusOne, yang membelinya dari CME pada 2016. CyrusOne meminta maaf atas gangguan tersebut dan menyatakan masalah berasal dari "kegagalan sistem chiller yang mempengaruhi beberapa unit pendingin."

Pemadaman ini menggarisbawahi betapa besar ketergantungan pasar pada kelancaran fungsi pusat data Aurora. Dampaknya bahkan dirasakan hingga Kuala Lumpur, di mana operator bursa Malaysia menghentikan perdagangan di pasar derivatifnya.

Belum jelas mengapa CME tidak beralih menggunakan pusat data cadangannya di wilayah New York. Salah satu masalah potensial adalah perusahaan perdagangan besar yang mengutip harga di CME tidak memiliki infrastruktur teknis yang kuat di lokasi cadangan, dan lebih memilih menunggu pemadaman di Aurora selesai.

Baca juga:  Liburan Sekolah Berubah Jadi Ladang Emas, Bocah SMP Kediri Temukan Harta Karun Majapahit

FMX, bursa pendatang baru yang berusaha menantang dominasi CME di futures suku bunga, mengatakan pemadaman ini menyoroti perlunya alternatif. CEO FMX Louis Scotto menyatakan bahwa insiden tersebut menggarisbawahi kebutuhan akan lebih banyak kompetisi dan pilihan di pasar global yang kritikal.

Ini merupakan pemadaman terpanjang dalam sejarah CME belakangan ini, namun dampaknya teredam karena terjadi pada larut malam Thanksgiving. Aksi pasar reguler yang mengikuti pada Black Friday berlangsung tanpa kejadian berarti.