Jakarta – Taipan kawakan Indonesia, Putera Sampoerna, kembali membuat gebrakan di dunia bisnis. Setelah sukses melepas kerajaan rokoknya belasan tahun lalu, kini ia dikabarkan telah menjual seluruh kepemilikan saham keluarganya di bisnis kelapa sawit. Melalui laporan jabarpos.id, penjualan 66% saham di Sampoerna Agro, perusahaan produsen minyak sawit yang terdaftar di bursa, kepada unit dari raksasa baja Korea Selatan, Posco, diperkirakan mencapai valuasi perusahaan sebesar US$885 juta.
Kesepakatan besar ini, yang terjadi pada November lalu, menandai hengkangnya keluarga Sampoerna dari sektor kelapa sawit. Posco, yang sudah memiliki jejak bisnis baja dan energi di Indonesia, melihat akuisisi ini sebagai langkah strategis.

Melalui Sampoerna Agro, Posco berambisi memperluas kehadirannya di sektor biofuel di Indonesia. Indonesia sendiri merupakan pemain kunci, menyumbang sekitar 60% dari produksi minyak sawit global, menjadikan akuisisi ini sangat relevan bagi ambisi Posco di energi terbarukan.
Dikutip dari sumber terpercaya, Sampoerna Strategic Group, perusahaan induk keluarga Sampoerna, menyatakan bahwa penjualan ini akan memungkinkan mereka untuk memfokuskan kembali sumber daya. Prioritas kini akan dialihkan pada bisnis yang sudah ada, seperti perbankan, kayu lapis, dan properti, sembari mencari peluang investasi baru yang menjanjikan.
Langkah ini bukanlah yang pertama bagi Putera Sampoerna dalam melepas aset besar. Pada tahun 2005, ia pernah menggemparkan pasar dengan menjual bisnis rokok tembakau keluarganya, HM Sampoerna, kepada raksasa tembakau AS Philip Morris dengan nilai fantastis US$2 miliar.
Di tengah dinamika ini, sektor kelapa sawit Indonesia juga mencatat transaksi besar lainnya. Pada Mei lalu, First Resources milik taipan Ciliandra Fangiono mengakuisisi 91% saham di Austindo Nusantara Jaya, yang sebelumnya dikendalikan oleh George dan Sjakon Tahija, dengan nilai US$330 juta. Transaksi-transaksi ini menunjukkan pergerakan signifikan di industri kelapa sawit Tanah Air.





