Pertemuan tak terduga antara Salim dan Sudwikatmono menjadi cikal bakal terbentuknya kelompok ini. Salim, seorang pengusaha ulung di bidang manufaktur dan ekspor-impor, bertemu dengan Sudwikatmono yang saat itu bekerja sebagai pegawai di kediaman Jenderal Soeharto. Pertemuan itu berlanjut dengan tawaran menggiurkan dari Salim kepada Sudwikatmono untuk bergabung dalam bisnisnya dengan gaji fantastis dan saham perusahaan.
Keterlibatan Soeharto dalam penunjukan Sudwikatmono menjadi kunci awal mula terbentuknya "Gang of Four". Soeharto beralasan bahwa Salim yang belum menjadi WNI mengalami kesulitan dalam mendapatkan pinjaman, sehingga Sudwikatmono ditunjuk sebagai jaminan.

Selanjutnya, Djuhar Sutanto, seorang taipan yang memiliki peran penting di perusahaan Kongsi Bintang Lima yang dekat dengan militer, diperkenalkan kepada Salim oleh Soeharto. Kecocokan pandangan bisnis antara Salim dan Djuhar membawa mereka berdua untuk mengambil alih CV Waringin dan mengubahnya menjadi Perseroan Terbatas.
Untuk urusan administrasi, karena Salim dan Djuhar belum menjadi WNI, mereka menggunakan nama Sudwikatmono dan Ibrahim Risjad, seorang pegawai Waringin. Dari sinilah "Gang of Four" resmi terbentuk. Kegiatan utama Waringin pada saat itu adalah perdagangan kopi dan produk primer serta memproduksi karet remah di Sumatra.
Setelah Salim dan Djuhar menjadi WNI dan Soeharto resmi menjadi presiden, bisnis mereka semakin berkembang pesat. Mereka mulai berbisnis tepung melalui PT. Bogasari. Keempatnya kemudian tergabung dalam Salim Group dan menduduki jabatan penting. Mereka terlibat dalam pendirian berbagai perusahaan besar seperti Indocement, Indomilk, Indofood, Indomobil, dan Indomaret. Sektor-sektor bisnis di perusahaan ini kemudian menguasai pasar Indonesia.
Dengan dukungan dari Soeharto, bisnis "Gang of Four" semakin jaya. Masing-masing dari mereka kemudian mendirikan gurita bisnisnya tersendiri, tanpa melupakan bisnis inti mereka di Salim Group.





