JABARPOS.ID, Jakarta – Banyak orang bermimpi jadi kaya raya, tapi kenapa ya banyak yang masih terjebak di kelas menengah? Ternyata, ada beberapa kebiasaan belanja yang tanpa sadar bikin keuangan sulit naik level.
Studi terbaru mengungkap, kelas menengah seringkali terjebak antara memenuhi kebutuhan hidup dan memanjakan diri dengan gaya hidup. CEO Pineapple Money, Zach Larsen, menyebutkan bahwa kelompok ini berusaha menyeimbangkan antara kenyamanan hidup dengan tuntutan finansial. Mereka fokus pada rumah yang layak, kendaraan yang andal, pendidikan anak, serta tabungan pensiun dan asuransi.

Laporan Business Insider menunjukkan bahwa jika mendapat rezeki nomplok, kelas menengah cenderung memilih menabung. Berbeda dengan kelompok berpenghasilan rendah yang lebih memilih membayar utang, dan kelompok kaya yang lebih suka berinvestasi.
Lantas, apa saja sih kebiasaan belanja yang bikin kelas menengah susah jadi kaya? Berikut tujuh di antaranya:
- Terlilit Cicilan: Mulai dari cicilan rumah, mobil, hingga pinjaman pendidikan. Orang kaya cenderung menggunakan utang untuk membeli aset produktif, sementara kelas menengah seringkali membeli barang konsumtif secara kredit.
- Gandrung Gadget Terbaru: Keinginan untuk selalu mengikuti tren, meski harus berutang, seringkali menjerat kelas menengah untuk membeli gadget atau barang bermerek non-luxury.
- Prioritaskan Pendidikan Tinggi: Pendidikan memang penting, tapi memilih jurusan yang tidak sesuai minat atau prospek kerja bisa jadi jebakan.
- Beli Rumah di Pinggiran Kota: Demi ruang dan kenyamanan, kelas menengah umumnya membeli rumah di pinggiran kota.
- Mobil Mewah dengan Cicilan Panjang: Alih-alih membeli mobil tunai seperti orang kaya, kelas menengah seringkali membeli mobil mahal dengan cicilan bertahun-tahun.
- Paket Wisata Hemat: Liburan memang penting, tapi kelas menengah seringkali memilih paket wisata yang hemat daripada liburan eksklusif ala orang kaya.
- Peralatan Dapur Premium: Kelas menengah cenderung membeli versi lebih baik dari kebutuhan dasar, seperti peralatan dapur premium.
Pakar keuangan menyarankan agar kelas menengah lebih bijak dalam mengelola keuangan. Alihkan pengeluaran untuk menciptakan keamanan finansial jangka panjang, seperti investasi, membangun bisnis, dan otomatisasi pengelolaan keuangan. Tujuannya bukan sekadar punya penghasilan, tapi membangun gaya hidup berkelanjutan yang memungkinkan pertumbuhan tanpa tekanan keuangan berlebihan.





