jabarpos.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan angin segar di tengah ketidakpastian global. Hasil Survei Orientasi Bisnis Perbankan OJK (SBPO) triwulan I-2026 menunjukkan bahwa kinerja perbankan Indonesia tetap solid dan mampu menjaga risiko, meskipun dunia dilanda berbagai konflik.
Survei yang melibatkan 93 bank dengan total aset mencapai 94,17% dari total aset bank umum ini, mengungkap kekhawatiran para pelaku industri terhadap kondisi global yang berkepanjangan dan dampaknya pada ekonomi Indonesia.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menekankan pentingnya ekosistem bisnis yang dinamis agar perbankan dapat terus tumbuh dengan baik, meskipun indikator perbankan saat ini menunjukkan ketahanan yang kuat.
Indeks Orientasi Bisnis Perbankan (IBP) pada triwulan I-2026 tercatat sebesar 56, menandakan zona optimis. Optimisme ini didorong oleh proyeksi pertumbuhan kinerja perbankan dan keyakinan akan kemampuan bank dalam mengelola risiko di tengah ekspektasi peningkatan inflasi dan pelemahan nilai tukar.
Meskipun demikian, prediksi pelemahan nilai tukar dan kenaikan inflasi menyeret Indeks Ekspektasi Kondisi Makroekonomi (IKM) ke zona pesimis dengan skor 45. Kenaikan inflasi dipicu oleh faktor musiman seperti Ramadan, Idul Fitri, dan Tahun Baru Imlek, serta tidak adanya lagi diskon tarif listrik seperti tahun sebelumnya.
Ketegangan geopolitik global juga menjadi faktor pendorong pelemahan nilai tukar. Namun, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan terakselerasi berkat peningkatan konsumsi masyarakat.
Mayoritas responden meyakini bahwa risiko perbankan pada triwulan I-2026 masih terkendali. Indeks Persepsi Risiko (IPR) berada di zona optimis dengan skor 57, seiring dengan keyakinan bahwa kualitas kredit tetap terjaga baik dan Posisi Devisa Netto (PDN) berada pada level rendah.
Likuiditas juga diperkirakan aman berkat ekspektasi pertumbuhan alat likuid perbankan dan Dana Pihak Ketiga (DPK). Pertumbuhan DPK yang lebih tinggi dari pertumbuhan kredit diperkirakan akan meningkatkan net cashflow.
Indeks Ekspektasi Kinerja (IEK) sebesar 67 menunjukkan optimisme terhadap kinerja perbankan pada triwulan I-2026. Pertumbuhan kredit diharapkan terus berlanjut seiring dengan meningkatnya permintaan dan upaya ekspansi kredit oleh bank.
Sektor industri pengolahan, yang mendominasi penyaluran kredit perbankan, tumbuh 6,60 persen (yoy) pada Januari 2026 dan diproyeksikan menjadi motor pertumbuhan kredit ke depan. Dari sisi penghimpunan dana, DPK juga diperkirakan tumbuh sejalan dengan upaya bank dalam mencari sumber dana untuk mendukung pertumbuhan kredit dan menjaga likuiditas.
Dalam SBPO kali ini, OJK juga mengumpulkan informasi terkait outlook ekonomi global dan Indonesia tahun 2026, serta pertumbuhan Kredit Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Ekonomi global diperkirakan tumbuh moderat akibat ketidakpastian dan geopolitik global.
Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran telah memicu aksi panic-selling di pasar saham Asia, meningkatkan kekhawatiran akan inflasi dan dampaknya terhadap ekonomi global. Dian menekankan pentingnya reformasi di semua sektor perekonomian dan kebijakan ekonomi yang terpadu untuk mendorong kinerja yang berkelanjutan.
Ekonomi Indonesia pada tahun 2026 diperkirakan tetap solid berkat stimulus fiskal dan kebijakan moneter yang akomodatif, serta didukung oleh konsumsi rumah tangga dan manufaktur. Sebagian besar bank responden optimis bahwa kredit UMKM akan tumbuh dengan porsi yang meningkat dibandingkan total kredit.





