jabarpos.id – Bank Indonesia (BI) memberikan penjelasan terkait penurunan cadangan devisa (cadev) Indonesia yang cukup signifikan. Meskipun terjadi penurunan, BI menegaskan bahwa posisi cadev saat ini masih dalam kondisi aman dan mampu menopang ketahanan eksternal serta stabilitas ekonomi negara.
Direktur Eksekutif Informasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan bahwa posisi cadev Indonesia masih berada di atas standar kecukupan minimal internasional, yaitu tiga bulan impor. Pada akhir Maret 2026, cadev Indonesia setara dengan pembiayaan 6,0 bulan impor atau 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

"Bank Indonesia akan tetap menjaga cadev itu di atas standar internasional yang ditentukan. Standar kecukupan minimal internasional itu adalah tiga bulan impor. Dan Bank Indonesia menjaga posisi cadangan devisa kita itu jauh di atas dari standar minimal tadi," ujar Ramdan Denny di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Sebelumnya, BI melaporkan bahwa cadev Indonesia pada Maret 2026 tercatat sebesar US$ 148,2 miliar, mengalami penurunan sekitar US$ 3,7 miliar dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar US$ 151,9 miliar. Penurunan ini disebabkan oleh penggunaan cadev untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan upaya stabilisasi nilai tukar Rupiah.
"Kebijakan stabilisasi tersebut sebagai respons Bank Indonesia terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat," demikian pernyataan resmi BI.
Meskipun terjadi penurunan, BI tetap berkomitmen untuk menjaga posisi cadev dalam kondisi yang memadai dan sehat demi menjamin ketahanan eksternal Indonesia. "Untuk menjamin ketahanan eksternal Indonesia. Jadi berapapun cadangan devisa yang dipergunakan untuk kegiatan intervensi, itu selalu mempertimbangkan posisi cadangan devisa yang memang memadai yang sehat untuk Indonesia," pungkas Ramdan Denny.





