Jabarpos.id – Perjalanan panjang pasar modal Indonesia telah mencetak sejarah panjang, bahkan sebelum kemerdekaan. Aktivitas perdagangan efek sudah dimulai sejak era kolonial dengan transaksi saham perusahaan perkebunan di Batavia pada akhir abad ke-19. Namun, dari sekian banyak perusahaan yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), saham mana sajakah yang mampu memberikan keuntungan berlipat ganda (multibagger) bagi para investor sejak era kemerdekaan?
Pasar modal Indonesia mengalami pasang surut yang signifikan. Sempat vakum akibat perang dunia dan krisis ekonomi, bursa kembali menggeliat pada era 1920-an sebelum akhirnya kembali terhenti pada 10 Mei 1940. Kebangkitan baru muncul setelah kemerdekaan, dengan pemerintah berupaya membangun kembali sistem keuangan nasional, termasuk menghidupkan kembali pasar modal.

Pada masa Orde Lama, Bursa Efek Jakarta dibuka kembali pada 3 Juni 1952 oleh Presiden Soekarno. Namun, nasionalisasi perusahaan Belanda pada tahun 1958 membuat efek Belanda tidak lagi diperdagangkan dan aktivitas bursa kembali terhenti sejak 1956 hingga 1977.
Era Orde Baru membawa angin segar dengan iklim investasi yang membaik. Pasar modal diaktifkan kembali pada 10 Agustus 1977 oleh Presiden Soeharto. Periode ini ditandai dengan tiga fase: tidur panjang, bangun dari tidur panjang, dan otomatisasi. Deregulasi Paket Desember 1987 (PAKDES 87) memberikan kemudahan bagi perusahaan untuk go public dan membuka peluang investasi asing.
Era Reformasi membawa perubahan signifikan, termasuk penggabungan Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES) menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 30 November 2007. Inovasi dan lembaga baru terus bermunculan, termasuk pembentukan OJK dan peluncuran program edukasi "Yuk Nabung Saham".
Berdasarkan catatan CNBC Indonesia, terdapat sejumlah saham yang mampu menjadi multibagger sejak melantai di BEI. Saham-saham ini biasanya melesat karena kombinasi pertumbuhan bisnis yang kuat, valuasi awal yang murah, dan sentimen pasar yang positif. Inovasi produk, ekspansi pasar, akuisisi strategis, atau peralihan tren industri yang menguntungkan juga dapat memicu lonjakan harga.
Pertumbuhan sektor industri, seperti teknologi, energi terbarukan, atau kesehatan, sering menjadi ladang multibagger karena ada mega trend yang menopang. Selain itu, saat pasar bullish dan investor optimis, saham dengan fundamental bagus sering melonjak jauh melampaui nilai wajarnya.
Disclaimer: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.



