Industri elektronik nasional tengah menghadapi periode sulit, dengan tingkat utilisasi kapasitas produksi yang hanya mampu mencapai kisaran 65%. Angka ini mengindikasikan adanya tekanan signifikan terhadap sektor manufaktur di Tanah Air. Laporan yang dihimpun jabarpos.id menyoroti bahwa gejolak geopolitik dan ekonomi global, ditambah dengan merosotnya daya beli konsumen, menjadi pemicu utama kondisi ini.
Deny Irawan, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Komoditi Elektronik (APKONIK), mengungkapkan bahwa tekanan yang mendera industri elektronik tidak hanya berasal dari faktor makro ekonomi. Ia menyoroti perubahan perilaku konsumen yang semakin selektif serta serbuan produk impor, termasuk barang ilegal, yang secara langsung menekan daya saing produk lokal. Kondisi ini diperparah dengan beban biaya produksi yang terus meningkat, membuat pelaku usaha semakin terhimpit.
Menyikapi situasi ini, para pelaku usaha industri elektronik lokal sangat berharap adanya dukungan konkret dari pemerintah. Penekanan arus impor barang elektronik, khususnya produk ilegal, menjadi salah satu prioritas utama yang diharapkan dapat membantu memulihkan kondisi industri. Dukungan ini dinilai krusial untuk menciptakan iklim usaha yang lebih adil dan kompetitif bagi produsen dalam negeri.
Also Read
Tantangan yang dihadapi industri elektronik nasional saat ini bukan sekadar masalah angka produksi, melainkan cerminan dari kompleksitas dinamika pasar global dan domestik. Tanpa intervensi yang tepat, potensi industri ini untuk berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional dikhawatirkan akan terus terhambat.






