jabarpos.id, Jakarta – Di tengah proyeksi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang diperkirakan akan mencapai puncaknya tahun ini, PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) mengidentifikasi peluang investasi yang menarik. Instrumen obligasi disebut-sebut sebagai pilihan menjanjikan bagi investor di tengah kondisi pasar saat ini.
Lanjar Nafi Taulat Ibrahimsyah, WM Business Development & Market Research Head CIMB Niaga, menjelaskan bahwa laju kenaikan BI Rate kini mulai melambat, mengindikasikan bahwa imbal hasil obligasi telah mendekati level tertinggi. Menurutnya, ini adalah momentum strategis bagi investor untuk mengamankan imbal hasil yang relatif tinggi sebelum siklus suku bunga berbalik arah.
"Karena BI Rate ini masih berpeluang naik, namun dengan tendensi yang melambat. Artinya, imbal hasil obligasi itu sudah mulai berada di puncak," ujar Lanjar dalam sebuah sesi Kelas Jurnalisme Inspiratif di Ritz Carlton Pacific Place, Rabu lalu. Ia menambahkan, perkiraan untuk tahun berikutnya menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga tidak akan lagi signifikan.
Also Read
Kondisi ini, kata Lanjar, sangat menguntungkan bagi investor baru yang ingin masuk ke pasar obligasi. Tingkat yield yang masih tinggi menawarkan kesempatan emas untuk mengunci imbal hasil yang menarik. "Kalau imbal hasilnya tinggi, itu kesempatan kita yang baru mau investasi di obligasi itu sangat menarik," tegasnya.
Lanjar memaparkan, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia pada kuartal II berada di level 7,16%. CIMB Niaga sendiri memiliki proyeksi yang cukup konservatif, yakni yield obligasi Indonesia dapat mencapai 7,5%, dengan mempertimbangkan potensi kenaikan suku bunga lebih lanjut. Sebagai ilustrasi, instrumen seperti FR100 saat ini masih menawarkan yield to maturity sekitar 7%-7,1%, sementara obligasi dengan tenor lima tahun memiliki yield di kisaran 6,7%-6,8%.
Namun, bagi investor yang sudah memegang obligasi, kenaikan yield ini perlu menjadi perhatian. Lanjar menjelaskan adanya hubungan terbalik antara yield dan harga obligasi. Ketika yield meningkat, harga obligasi akan mengalami tekanan. "Kalau imbal hasil naik, harga obligasi turun. Di saat imbal hasil naik tinggi-tingginya, harga obligasi turun, itulah timing yang tepat untuk kita lock imbal hasil di obligasi," jelasnya. Dengan demikian, investor yang membeli obligasi saat yield tinggi berpotensi meraup keuntungan ketika siklus suku bunga berbalik dan harga obligasi naik.
Di sisi lain, Lanjar mengingatkan investor untuk tetap mewaspadai risiko nilai tukar. Rupiah diperkirakan masih akan menghadapi volatilitas akibat faktor eksternal, termasuk potensi capital outflow dan ketidakpastian geopolitik. Konsensus Bloomberg memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di sekitar Rp17.800/US$, sementara CIMB Niaga memiliki proyeksi yang lebih konservatif di Rp18.300/US$.
Oleh karena itu, selain mengoptimalkan pasar obligasi, investor juga disarankan untuk melakukan mitigasi risiko nilai tukar melalui diversifikasi aset yang tidak berdenominasi rupiah. "Mulailah investasi ke nilai tukar yang tidak berdenominasi rupiah, bisa reksa dana global syariah, atau reksa dana pendapatan tetap yang US dolar," saran Lanjar.
Dengan prospek BI Rate yang dinilai mulai mendekati puncak, periode suku bunga tinggi ini menjadi jendela kesempatan bagi investor untuk mengunci yield obligasi sebelum arah kebijakan moneter berubah.






