Prospek pasar saham Indonesia hingga tahun 2026 mendatang diperkirakan masih menyimpan potensi penguatan signifikan. Menurut laporan yang diterima jabarpos.id, PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) melalui kolaborasi dengan sejumlah manajer investasi, memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dapat bergerak di kisaran 7.000 hingga 8.000 pada periode tersebut.
Lanjar Nafi Taulat Ibrahimsyah, Head of WM Business Development & Market Research CIMB Niaga, mengungkapkan tiga skenario utama yang dapat membentuk pergerakan IHSG di tahun 2026. Ketiga skenario tersebut meliputi bull case (paling optimistis), base case (dasar), dan bear case (paling konservatif).
Dalam proyeksi paling cerah, atau skenario bull case, IHSG diyakini mampu menembus level 8.000. Sementara itu, skenario dasar atau base case menempatkan IHSG di sekitar 7.500. Untuk skenario paling hati-hati, atau bear case, indeks diperkirakan akan berada pada level 7.000.
Also Read
Lanjar menegaskan bahwa bahkan pada skenario paling konservatif di 7.000, masih ada potensi kenaikan bagi saham-saham di Indonesia. Pernyataan ini disampaikannya dalam acara Kelas Jurnalisme Inspiratif di Ritz Carlton Pacific Place, Rabu lalu. Ia menambahkan, meskipun pasar saham dihadapkan pada berbagai tekanan, peluang penguatan IHSG tetap terbuka lebar.
Salah satu variabel krusial yang menjadi sorotan utama para investor adalah kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI). CIMB Niaga sendiri mengambil posisi konservatif, memprediksi bahwa BI Rate masih berpeluang naik satu kali lagi dalam tahun ini.
Menurut Lanjar, kondisi ekonomi domestik saat ini sedang berada dalam fase pengetatan moneter dan perlambatan pertumbuhan. Hal ini terlihat dari kenaikan suku bunga dan proyeksi perlambatan pertumbuhan ekonomi. Namun, ia meyakini bahwa setelah potensi kenaikan terakhir tersebut, ruang bagi BI untuk kembali menaikkan suku bunga akan semakin sempit. "Ini menandakan bahwa suku bunga sudah mulai mendekati puncaknya," jelasnya.
Tingkat suku bunga yang tinggi menjadi pertimbangan penting bagi investor dalam merumuskan strategi investasi di pasar modal. Suku bunga yang melambung berpotensi mengerek biaya pendanaan (cost of fund) bagi perusahaan, yang pada gilirannya dapat menekan valuasi saham. "Untuk investasi saham, kita harus lebih selektif," kata Lanjar. "Tren kenaikan suku bunga berpotensi meningkatkan beban biaya dana bagi para emiten."
Ia menjelaskan bahwa emiten yang berencana melakukan ekspansi dan membutuhkan suntikan dana segar akan menghadapi biaya modal yang lebih mahal saat suku bunga tinggi. Sumber pendanaan ini bisa berupa pinjaman bank atau penerbitan obligasi. "Jika suku bunga tinggi, apa dampaknya bagi emiten? Biaya untuk memperoleh modal baru akan membengkak, dan ini bisa membuat valuasi saham menjadi kurang atraktif," paparnya.
Oleh karena itu, Lanjar menyarankan agar investor tidak hanya terpaku pada saham yang sedang mengalami koreksi harga, melainkan juga harus cermat memperhatikan fundamental dan struktur keuangan perusahaan. "Meskipun saat ini banyak saham yang terkoreksi, sebaiknya fokus pada saham-saham berkapitalisasi besar (big cap) atau yang memiliki rasio utang tidak terlalu tinggi dibandingkan asetnya," tutupnya.






