Rupiah dan IHSG Menghadapi Badai

Author Image

Endang Wulansari

17 September 2026, 12:04 WIB

Keputusan Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed, untuk kembali mengerek suku bunga acuannya menjadi 3,75%-4,00% pada 16 September 2025 lalu, menjadi sorotan utama di pasar keuangan global. Informasi yang dihimpun jabarpos.id menyebutkan, kenaikan sebesar 25 basis poin ini memicu kekhawatiran serius di kalangan investor dan analis.

Situasi ini diperparah dengan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun yang mencapai level 5%, tertinggi sejak tahun 2007. Economist CNBC Indonesia Research, Maesaroh, menjelaskan bahwa fenomena ini berjalan seiring dengan penguatan indeks dolar AS, menciptakan tekanan ganda di pasar.

Rupiah dan IHSG Menghadapi Badai
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Maesaroh lebih lanjut memaparkan, kondisi tersebut berpotensi memicu gelombang capital outflow besar-besaran dari pasar keuangan negara-negara berkembang (emerging markets). Akibatnya, tekanan pelemahan terhadap mata uang dan pasar saham di negara-negara tersebut, termasuk Indonesia, diperkirakan akan semakin signifikan.

Dampak langsungnya sudah mulai terasa di Tanah Air. Rupiah terpantau melemah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga menunjukkan tren penurunan, sementara yield Surat Berharga Negara (SBN) mengalami kenaikan. Kenaikan yield SBN ini secara langsung akan menambah beban bunga utang pemerintah, yang pada gilirannya dapat memperberat anggaran negara.

Tidak hanya itu, dalam jangka panjang, kenaikan suku bunga acuan The Fed dan yield SBN juga diproyeksikan akan mengerek biaya pinjaman bagi korporasi. Hal ini tentu akan berdampak pada ekspansi bisnis dan investasi di sektor riil. Para pelaku pasar kini menanti strategi pemerintah dan Bank Indonesia untuk merespons tantangan ekonomi global yang semakin kompleks ini, seperti yang diulas dalam dialog Squawk Box CNBC Indonesia pada Kamis (17/09/2026).

Related Post