IHSG Merosot Tajam Saham Bank Jadi Beban

Author Image

Endang Wulansari

26 September 2026, 06:04 WIB

Jabarpos.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan pekan ini dengan hasil yang kurang memuaskan. Pasar modal Indonesia terpantau berakhir di zona merah, mengalami koreksi sebesar 51,54 poin atau merosot 0,82% ke level 6.247,07. Pelemahan ini terjadi di tengah aktivitas transaksi yang justru menunjukkan peningkatan volume yang cukup signifikan.

Berdasarkan data aktivitas perdagangan, volume transaksi tercatat melonjak hingga mencapai 23,93 miliar saham. Total lot yang berpindah tangan mencapai 239,26 juta lot dengan nilai transaksi yang menembus angka Rp8.139,288 triliun. Meski volume transaksi meningkat, sentimen pasar justru lebih didominasi oleh aksi jual. Tercatat sebanyak 587 saham mengalami penurunan harga, sementara hanya 122 saham yang mampu bertahan di zona hijau, sedangkan 254 saham lainnya bergerak stagnan.

IHSG Merosot Tajam Saham Bank Jadi Beban
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Sektor layanan akademik dan pendidikan menjadi penyumbang penurunan terbesar dengan anjlok hingga 10,26%. Selain itu, sektor industri dan real estate juga turut memberikan tekanan terhadap indeks, masing-masing turun sebesar 1,9% dan 1,4%.

Pelemahan IHSG ini tidak lepas dari performa saham-saham berkapitalisasi besar (blue chip) yang justru menjadi beban bagi indeks. Beberapa saham perbankan raksasa seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) ikut tersungkur. Selain sektor perbankan, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) dan PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) juga turut menarik indeks ke zona merah. Di sisi lain, penguatan indeks sempat ditopang oleh pergerakan saham PT Fortune Indonesia Tbk. (FORU), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG), PT Astra International Tbk. (ASII), dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG).

Kondisi pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi global. Salah satu faktor utama yang membayangi adalah kebijakan moneter Amerika Serikat. Pejabat Federal Reserve (The Fed) memberikan sinyal bahwa suku bunga AS kemungkinan masih perlu dinaikkan guna menekan inflasi yang dinilai masih "membandel". Pernyataan dari Presiden Philadelphia Fed, Anna Paulson, serta Presiden New York Fed, John Williams, memperkuat ekspektasi bahwa pengetatan kebijakan moneter masih menjadi opsi yang masuk akal di masa mendatang.

Kondisi ini diperparah dengan melonjaknya imbal hasil (yield) obligasi Treasury AS ke level tertinggi dalam lebih dari dua dekade terakhir. Lonjakan yield ini memicu aksi jual obligasi secara global, yang pada akhirnya meningkatkan biaya pinjaman di seluruh dunia dan berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi.

Di dalam negeri, pelaku pasar kini tengah menantikan berbagai rilis data penting, mulai dari pertumbuhan uang beredar, langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah, hingga pembahasan mengenai postur APBN 2027. Sementara itu, faktor eksternal seperti harga minyak dunia dan eskalasi konflik di Timur Tengah tetap menjadi variabel yang patut diwaspadai oleh para investor dalam menghadapi perdagangan pekan depan.

Related Post