IHSG Terjun Bebas Jelang Penutupan Pasar

Author Image

Endang Wulansari

26 September 2026, 08:31 WIB

Jabarpos.id – Pasar modal Indonesia dikejutkan dengan pergerakan drastis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sesi kedua, Jumat (25/9/2026). Menjelang penutupan pekan ini, indeks yang sebelumnya sempat menunjukkan optimisme justru terjun bebas dengan penurunan mencapai lebih dari 1 persen, menyentuh level 6.232,38.

Perjalanan IHSG pada hari ini tergolong sangat fluktuatif. Pada pembukaan perdagangan pagi hari, indeks sebenarnya sempat memberikan sinyal positif dengan menguat ke level 6.315,53. Bahkan, sempat terjadi reli singkat yang membawa indeks menyentuh titik tertinggi di level 6.328,41. Namun, euforia tersebut tidak bertahan lama. Tekanan jual yang masif mulai mendominasi pasar sejak tengah hari, memaksa indeks merosot tajam hingga sempat menyentuh level terendah di 6.235,18 pada pukul 10:00 WIB.

IHSG Terjun Bebas Jelang Penutupan Pasar
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Meski sempat terjadi upaya pemulihan atau rebound terbatas yang membuat pergerakan indeks tampak tidak menentu hingga pukul 11:00 WIB, tekanan jual kembali menguat. Hingga berita ini diturunkan, IHSG terpantau masih tertahan di kisaran 6.236,53. Fenomena ini terjadi di tengah aktivitas perdagangan yang sangat padat, di mana volume transaksi tercatat mencapai 21,04 miliar saham dengan total nilai transaksi yang menembus angka Rp6.709,128 triliun.

Pelemahan tajam ini tidak lepas dari kombinasi sentimen domestik dan tekanan hebat dari pasar global. Di dalam negeri, para investor tengah mencermati berbagai kebijakan krusial, mulai dari dinamika pertumbuhan uang beredar, upaya Bank Indonesia dalam menstabilkan nilai tukar rupiah, hingga pembahasan mengenai postur APBN 2027 yang akan menentukan arah ekonomi nasional ke depan.

Namun, guncangan utama justru datang dari Amerika Serikat. Kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) menjadi pemicu utama ketidakpastian. Dua pejabat tinggi The Fed, Anna Paulson dari Philadelphia Fed dan John Williams dari New York Fed, memberikan sinyal kuat bahwa suku bunga AS masih berpotensi naik kembali. Hal ini disebabkan oleh angka inflasi yang dinilai masih "membandel" dan sulit ditekan ke target 2 persen.

Kondisi ini diperparah dengan lonjakan imbal hasil (yield) obligasi Treasury AS yang mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Yield obligasi tenor 30 tahun melonjak ke 5,48%, level tertinggi sejak tahun 2004. Fenomena ini memicu aksi jual obligasi secara global, yang pada akhirnya meningkatkan biaya pinjaman di seluruh dunia. Lonjakan yield ini menjadi alarm bagi investor karena dapat menekan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan beban utang pemerintah maupun sektor swasta.

Di kawasan Asia-Pasifik, pergerakan bursa terpantau beragam. Sementara indeks Nikkei 225 di Jepang menunjukkan ketahanan dengan menguat tipis, bursa Australia justru mengalami pelemahan. Ketidakpastian global ini diprediksi akan terus membayangi pasar keuangan dalam beberapa waktu ke depan, terutama terkait arah kebijakan suku bunga dunia dan stabilitas harga energi global.

Related Post