Jabarpos.id – Di tengah kondisi industri perbankan nasional yang tengah menghadapi tantangan berupa meningkatnya angka kredit menganggur atau undisbursed loan (UL), PT Bank KB Indonesia Tbk. (BBKP) justru menunjukkan performa yang kontras. Bank yang terafiliasi dengan raksasa finansial asal Korea Selatan ini berhasil mencatatkan tingkat penyerapan kredit yang sangat tinggi, di mana hampir 80 persen dari total fasilitas kredit yang diberikan telah dicairkan oleh nasabah.
Fenomena ini menjadi sorotan karena berbanding terbalik dengan tren umum di industri perbankan. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah kredit menganggur di sektor perbankan pada Juli 2026 tercatat mencapai Rp2.548 triliun. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 7,80 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada Juli 2025 yang berada di level Rp2.364 triliun.
Direktur Wholesale Banking KB Bank, Widodo Suryadi, mengungkapkan bahwa tingginya angka pencairan kredit di banknya merupakan hasil dari ketepatan dalam menyalurkan fasilitas kredit. Menurutnya, produk yang ditawarkan telah disesuaikan secara presisi dengan kebutuhan modal kerja para nasabah.
Also Read
"Sampai hari ini tingkat disbursement kami cukup tinggi. Jika dirata-rata, tingkat utilisasi kami mencapai hampir 80 persen dari total modal yang kami berikan," ujar Widodo dalam sebuah acara di Jakarta Selatan. Meski demikian, ia menekankan bahwa pertumbuhan yang agresif ini tetap berjalan beriringan dengan prinsip kehati-hatian guna menjaga kualitas aset bank.
Keberhasilan ini tidak lepas dari fokus baru KB Bank yang mulai mengoptimalkan lini wholesale banking. Segmen ini memposisikan bank sebagai mitra keuangan strategis bagi pelaku bisnis hingga institusi skala besar di Indonesia. Layanan tersebut dibagi ke dalam tiga pilar utama, yakni Corporate Banking, Commercial Banking, dan Enterprise Banking, yang seluruhnya didukung oleh kekuatan Transaction Banking.
Widodo menambahkan, strategi ini membuat KB Bank memiliki posisi yang sangat menguntungkan. Hal ini terbukti dengan rendahnya angka kredit menganggur di internal bank dibandingkan dengan rata-rata industri perbankan nasional. Hingga Juni 2026, pertumbuhan kredit baru di segmen wholesale telah menyentuh angka 13 persen, dan bank optimis angka ini akan melonjak hingga 15 persen pada akhir tahun nanti berkat pipeline bisnis yang menjanjikan.
Senada dengan hal tersebut, Transaction Banking Division Head KB Bank, Novita S. Djani, menjelaskan bahwa kunci sukses mereka terletak pada integrasi layanan melalui konsep "One KB Solutions". Strategi ini bertujuan untuk mendekatkan ekosistem nasabah dengan menyediakan solusi transaksi yang menyeluruh.
"Melalui satu platform, kami membantu nasabah mulai dari koneksi bisnis hingga manajemen arus kas, seperti bagaimana menerima pembayaran dari hasil penjualan barang secara efisien," jelas Novita.
Hingga Juni 2026, total penyaluran kredit KB Bank telah mencapai Rp44,97 triliun, atau tumbuh sebesar 4,38 persen secara tahunan. Dengan fundamental yang kuat dan strategi yang tepat sasaran, KB Bank optimis dapat terus memperkuat penetrasinya di pasar keuangan Indonesia.






