Tragedi Keserakahan Mal Terbesar Korea Selatan

Author Image

Endang Wulansari

27 September 2026, 08:04 WIB

Jabarpos.id – Ambisi untuk meraup keuntungan finansial tanpa memedulikan nyawa manusia telah mencatatkan sejarah paling kelam di Korea Selatan. Sebuah mal megah yang kala itu menjadi ikon kemewahan di negeri ginseng, runtuh dalam sekejap dan mengubah pusat perbelanjaan menjadi kuburan massal yang mengerikan. Tragedi runtuhnya Sampoong Department Store bukan sekadar bencana alam, melainkan sebuah malapetaka kemanusiaan yang dipicu oleh keserakahan dan pengabaian fatal pihak manajemen.

Peristiwa mematikan yang terjadi pada 29 Juni 1995 ini mengakibatkan 502 orang kehilangan nyawa. Tak hanya itu, lebih dari 1.500 orang, yang terdiri dari pengunjung dan staf, terjebak dan terkubur di bawah tumpukan beton yang sangat masif.

Tragedi Keserakahan Mal Terbesar Korea Selatan
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Berdasarkan laporan investigasi, tanda-tanda kehancuran sebenarnya sudah muncul jauh sebelum mal tersebut ambruk. Sejak April 1995, atau sekitar tiga bulan sebelum kejadian, retakan besar mulai terlihat jelas pada dinding dan atap di lantai lima. Namun, alih-alih melakukan tindakan darurat dengan menutup gedung untuk audit keselamatan, pihak pengelola justru memilih jalan pintas yang sangat berbahaya. Mereka hanya memindahkan beberapa kios ke lantai bawah demi menjaga arus pendapatan tetap berjalan.

Puncak dari segala kelalaian ini terjadi pada sore hari di tanggal 29 Juni 1995. Saat itu, retakan bangunan dilaporkan semakin lebar hingga merambat ke lantai empat. Dalam kondisi kritis tersebut, manajemen kembali mengambil keputusan yang tidak manusiawi. Mereka tidak menutup mal, melainkan hanya mematikan sistem pendingin ruangan (AC) dengan alasan teknis, padahal tujuan sebenarnya adalah menghindari kerugian transaksi bisnis.

Ironisnya, saat situasi semakin genting, para petinggi perusahaan justru melarikan diri dari lokasi. Mereka meninggalkan ribuan karyawan dan pengunjung yang tidak menyadari bahwa maut sedang mengintai di atas kepala mereka. Pengunjung hanya merasakan hawa panas dan pengap akibat AC yang mati, tanpa tahu bahwa struktur bangunan sudah di ambang kehancuran.

Sekitar pukul 17.50 waktu setempat, gemuruh hebat terdengar dari dalam gedung. Suasana berubah menjadi horor saat suara retakan beton menyerupai suara kereta bawah tanah yang masuk ke stasiun. Hanya dalam waktu sekitar 20 detik, bangunan berlantai lima tersebut runtuh total, menimbun ribuan orang di bawah reruntuhan beton yang sangat berat.

Hasil investigasi mengungkap bahwa akar masalah dimulai sejak tahun 1987. Lahan yang digunakan untuk membangun mal tersebut ternyata adalah bekas tempat pembuangan sampah yang tanahnya tidak stabil. Pemilik Sampoong, Lee Joon, secara arogan menolak saran kontraktor awal yang meminta lokasi tersebut dijadikan apartemen dengan struktur lebih kuat. Demi memaksakan kehendak, Lee Joon bahkan memecat kontraktor lama dan mencari pihak lain yang bersedia mengikuti rancangan konstruksi yang cacat tersebut.

Akibat kelalaian berat ini, pengadilan akhirnya menjatuhkan hukuman penjara 10 tahun kepada Lee Joon dan tujuh tahun penjara kepada putranya, Lee Han-Sang. Tragedi ini tetap menjadi pengingat keras bagi dunia tentang betapa mahalnya harga yang harus dibayar ketika nyawa manusia dikorbankan demi keuntungan materi semata.

Related Post