Misteri Saham yang Diburu Saat Asing Kabur

Author Image

Endang Wulansari

27 September 2026, 10:31 WIB

Jabarpos.id – Pasar modal Indonesia kembali menghadapi tekanan hebat pada perdagangan sesi I, Jumat (25/9/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tampak kesulitan untuk bertahan di zona hijau dan justru merosot tajam. Berdasarkan data terbaru, indeks mengalami pelemahan sebesar 34,88 poin atau setara dengan 0,55 persen, sehingga kini bertengger di level 6.263,73.

Kondisi ini diperparah dengan fenomena outflow atau keluarnya modal asing dari pasar saham tanah air. Tercatat, investor global melakukan aksi jual bersih (net sell) dengan nilai mencapai Rp355,78 miliar hingga tengah hari ini. Jika membedah lebih dalam, total transaksi pembelian oleh investor asing tercatat sebesar Rp1,09 triliun, namun angka ini tidak mampu membendung arus penjualan asing yang menembus angka Rp1,44 triliun.

Misteri Saham yang Diburu Saat Asing Kabur
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Meski secara keseluruhan terjadi aksi jual bersih yang masif, ada fenomena menarik yang terjadi di lantai bursa. Di tengah badai pelemahan IHSG, sejumlah emiten justru menjadi primadona dan diborong oleh investor asing. Hal ini menunjukkan adanya strategi selektif dari para pemain global yang tetap mencari peluang di tengah ketidakpastian pasar.

Sektor perbankan tetap menjadi magnet utama. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memimpin daftar saham yang paling banyak diburu asing dengan nilai pembelian bersih mencapai Rp15,65 miliar. Selain BBCA, sektor industri dan energi juga menunjukkan daya tarik kuat. Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) masuk dalam jajaran teratas dengan nilai Rp9,83 miliar, disusul oleh PT Bukit Asam Tbk (PTBA) senilai Rp8,59 miliar.

Tak ketinggalan, beberapa saham lain yang mencatatkan aksi beli bersih oleh asing antara lain PT MNC Energy Investments Tbk (IATA) senilai Rp8,04 miliar, PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) sebesar Rp7,83 miliar, serta PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) senilai Rp6,57 miliar. Nama besar seperti PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) juga turut diborong senilai Rp6,13 miliar, diikuti oleh PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) senilai Rp5,74 miliar, PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE) senilai Rp5,56 miliar, dan ritel raksasa PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) senilai Rp5,16 miliar.

Namun, di balik deretan saham yang diburu tersebut, terdapat tekanan jual yang sangat besar pada saham-saham berkapitalisasi besar atau blue chip. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menjadi sasaran utama aksi jual asing dengan nilai mencapai Rp43,75 miliar. Selain itu, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) juga mengalami tekanan dengan net sell sebesar Rp37,84 miliar.

Sektor perbankan lainnya juga tak luput dari gempuran aksi jual. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) tercatat dilepas asing senilai Rp34,71 miliar, disusul PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar Rp28,86 miliar, serta PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) senilai Rp23,42 miliar. Saham-saham lain seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Astra International Tbk (ASII), hingga PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) juga turut mengalami tekanan jual yang signifikan.

Situasi ini menuntut kewaspadaan bagi para investor ritel dalam menentukan strategi investasi, mengingat fluktuasi yang sangat dinamis antara saham yang dibuang dan saham yang justru dikoleksi oleh modal asing.

Related Post