IHSG Anjlok dan Rupiah Tembus Rp18 Ribu

Author Image

Endang Wulansari

29 September 2026, 10:31 WIB

Jabarpos.id – Kondisi pasar keuangan Indonesia tengah mengalami guncangan hebat pada perdagangan Selasa (29/9/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penurunan tajam, sementara nilai tukar rupiah merosot hingga menyentuh level psikologis yang mengkhawatirkan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan pantauan data pasar, IHSG mengalami koreksi mendalam sejak pembukaan sesi pertama. Hingga pukul 09.28 WIB, indeks acuan pasar modal tanah air tersebut berada di level 6.020,57. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 127,29 poin atau merosot lebih dari 2%. Jika ditarik secara akumulatif sejak awal tahun (year to date), performa IHSG tercatat telah ambles hingga 30,09%.

IHSG Anjlok dan Rupiah Tembus Rp18 Ribu
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Kondisi serupa juga terjadi pada mata uang Garuda. Rupiah terus mengalami tekanan hebat dan kini telah menembus angka Rp18.000 per dolar AS. Mengutip data Refinitiv pada pukul 09.55 WIB, rupiah terdepresiasi sebesar 0,19% ke posisi Rp18.000/US$. Pelemahan ini merupakan kelanjutan dari tren negatif sejak Senin kemarin, di mana rupiah ditutup melemah 0,48% ke posisi Rp17.965/US$.

Menanggapi situasi yang memanas di pasar keuangan ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memberikan tanggapannya. Di tengah perhelatan HSBC Indonesia Summit 2026 di Jakarta Selatan, Airlangga menyatakan bahwa fluktuasi yang terjadi saat ini merupakan hal yang lumrah dalam dinamika pasar.

Airlangga menekankan bahwa jika melihat dalam perspektif jangka menengah, tren koreksi ini sebenarnya adalah bagian dari siklus pasar yang wajar. Ia meminta pelaku pasar untuk tidak hanya terpaku pada pergerakan harian yang bersifat jangka pendek. "Ya, itu juga biasa. Kalau kita lihat kan kita ambil mid-termnya, tapi tidak short day," ujar Airlangga kepada awak media.

Terkait dengan kondisi pasar modal yang sedang tertekan, Airlangga mengungkapkan bahwa Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menyiapkan berbagai langkah strategis dan regulasi untuk menjaga stabilitas. Salah satu instrumen yang disiapkan adalah optimalisasi mekanisme short selling.

Sebagai informasi, BEI telah mengaktifkan kembali transaksi short selling sejak 15 September 2026. Mekanisme ini memungkinkan para investor untuk tetap meraih potensi keuntungan meskipun kondisi pasar sedang dalam tren menurun. Dalam praktiknya, investor dapat melakukan pinjam-meminjam efek melalui perusahaan efek yang memiliki fasilitas tersebut untuk mengambil posisi jual saat harga diprediksi akan turun.

Mengenai pelemahan rupiah yang telah menyentuh angka Rp18.000, Airlangga menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Ia memastikan bahwa koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI) terus berjalan intensif untuk memantau setiap pergerakan mata uang.

"Ini kan namanya market, ya market selalu menguat dan melemah. Pemerintah terus memonitor dan tentu BI juga melihat semuanya," pungkas Airlangga. Langkah pemantauan ketat ini diharapkan dapat meredam volatilitas yang berlebihan dan menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

Related Post