Jabarpos.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa yang cukup impresif pada pembukaan perdagangan sesi pertama, Rabu (30/9/2026). Setelah sempat mengalami tekanan di awal sesi, indeks justru mampu melakukan rebound kuat dan bergerak ke zona hijau. Hingga pukul 09.30 WIB, IHSG tercatat melesat ke level 6.185,37, atau mengalami penguatan sebesar 1,04 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Perjalanan indeks pagi ini tidak berjalan mulus sejak menit pertama. Saat bel pembukaan berbunyi pada pukul 09.00 WIB, IHSG sempat menyentuh titik terendahnya di level 6.118,05. Namun, optimisme investor segera mengambil alih pasar. Dalam waktu singkat, indeks berbalik arah dan terus merangkak naik hingga mencapai level tertinggi harian di angka 6.187,05. Meski sempat mengalami sedikit koreksi ke kisaran 6.169 pada pukul 09.45 WIB, momentum penguatan tetap terlihat dominan.
Aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga menunjukkan peningkatan yang signifikan. Hingga menjelang pukul 09.45 WIB, volume perdagangan telah menyentuh angka 89,42 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp2,59 triliun. Lonjakan ini menandakan antusiasme pelaku pasar yang cukup tinggi dalam merespons dinamika pasar saat ini.
Also Read
Jika menilik lebih dalam, penguatan IHSG pagi ini didorong oleh performa sektor-sektor strategis. Sektor utilitas (utilities) dan sektor material dasar menjadi motor utama dengan kenaikan masing-masing sebesar 1,8 persen. Tak ketinggalan, sektor energi turut memberikan kontribusi positif dengan pertumbuhan sebesar 1,5 persen. Beberapa emiten yang menjadi pendorong utama kenaikan indeks antara lain saham perbankan raksasa seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), serta saham PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) dan PT United Tractors Tbk. (UNTR).
Namun, di sisi lain, terdapat beberapa saham yang justru menjadi pemberat pergerakan indeks. Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), hingga PT MNC Digital Entertainment Tbk. (MSIN) terpantau mengalami tekanan yang menghambat laju kenaikan IHSG lebih tinggi lagi.
Kondisi pasar saat ini dipengaruhi oleh perpaduan sentimen domestik dan global yang cukup kompleks. Di pasar internasional, investor tengah menanti rilis data inflasi PCE serta data pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang akan menjadi kompas arah kebijakan moneter global. Selain itu, pernyataan dari pejabat Federal Reserve yang cenderung hawkish memberikan sinyal bahwa suku bunga mungkin masih akan mengalami penyesuaan sebelum akhir tahun 2026.
Di sisi lain, pelemahan harga minyak mentah dunia, baik Brent maupun WTI, memberikan sedikit ruang napas bagi pasar karena meredakan kekhawatiran terkait gangguan pasokan energi. Menanggapi dinamika ini, pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa fluktuasi nilai tukar dan indeks saham merupakan bagian dari dinamika pasar jangka menengah yang tetap dipantau secara ketat oleh Bank Indonesia dan otoritas terkait.






