Tren Baru Asuransi Unitlink Mata Uang Asing

Author Image

Endang Wulansari

30 September 2026, 21:31 WIB

Jabarpos.id – Industri asuransi jiwa di Indonesia tengah mengalami transformasi besar seiring dengan perubahan perilaku konsumen yang semakin dinamis. Saat ini, perusahaan-perusahaan asuransi mulai gencar memasarkan produk Asuransi yang Dikaitkan dengan Investasi (PAYDI) atau yang lebih dikenal dengan istilah unitlink, namun dengan inovasi baru: menggunakan basis mata uang asing.

Langkah strategis ini diambil untuk merespons kebutuhan masyarakat yang menginginkan fleksibilitas lebih dalam mengelola aset mereka. Salah satu pemain utama yang mengambil momentum ini adalah Great Eastern Life Indonesia. Perusahaan asuransi jiwa tersebut dilaporkan telah memperluas portofolio unitlink mereka ke dalam dua jenis mata uang asing guna memenuhi ekspektasi pasar yang kian beragam.

Tren Baru Asuransi Unitlink Mata Uang Asing
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Presiden Direktur Great Eastern Life Indonesia, Nina Ong, mengungkapkan bahwa perusahaan telah meluncurkan produk GREAT Investlink Protection berbasis dolar Amerika Serikat (USD) pada Desember 2025. Namun, inovasi tidak berhenti di situ. Pada Mei 2026, perusahaan tersebut melakukan terobosan dengan memperkenalkan pilihan mata uang dolar Singapura (SGD). Produk ini menjadi yang pertama di pasar Indonesia yang menawarkan pilihan mata uang SGD dalam skema PAYDI.

Inovasi mata uang asing ini terbukti mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat. Hanya dalam waktu kurang dari empat bulan sejak diperkenalkan, produk GREAT Investlink Protection telah memberikan kontribusi yang sangat signifikan. Hingga Agustus 2026, produk ini mencatatkan kontribusi lebih dari 50 persen terhadap total produksi bancassurance perusahaan secara year-to-date (YTD).

"Hingga Agustus 2026, kontribusinya telah mencapai lebih dari separuh produksi bancassurance kami. Hal ini menegaskan bahwa nasabah kini semakin membutuhkan solusi finansial yang dapat disesuaikan dengan berbagai tujuan investasi mereka," ujar Nina Ong dalam keterangan tertulisnya.

Fenomena ini sejalan dengan tren pertumbuhan premi produk PAYDI secara nasional. Berdasarkan data dari Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), sektor ini menunjukkan performa yang sangat positif. Pada Semester I 2026, premi PAYDI tercatat tumbuh sebesar 10,3 persen menjadi Rp35,73 triliun. Bahkan, untuk premi bisnis baru PAYDI/Unit Link, kenaikannya melonjak drastis hingga 34,5 persen menjadi Rp19,78 triliun.

Jika menilik dari metode pembayarannya, pendapatan premi tunggal juga mengalami peningkatan sebesar 26,3 persen menjadi Rp40,76 triliun. Sementara itu, kanal distribusi bancassurance tetap memegang peran krusial sebagai saluran distribusi terbesar dengan pendapatan premi mencapai Rp41,58 triliun, atau tumbuh sebesar 17,9 persen.

Pergeseran pasar menuju produk unitlink mata uang asing ini menandakan bahwa masyarakat Indonesia kini semakin melek finansial. Mereka tidak lagi hanya mencari perlindungan jiwa, tetapi juga mulai melirik diversifikasi aset melalui mata uang asing untuk melindungi nilai kekayaan mereka dari fluktuasi ekonomi domestik.

Related Post