Suku Bunga BI Bakal Naik Lagikah

Author Image

Endang Wulansari

1 Oktober 2026, 06:04 WIB

Jabarpos.id – Dinamika ekonomi global tengah memasuki fase yang cukup menantang bagi stabilitas moneter di berbagai negara. Setelah gelombang kenaikan suku bunga melanda bank sentral negara-negara maju, perhatian pasar kini tertuju pada langkah yang akan diambil oleh Bank Indonesia (BI) dalam menghadapi sisa akhir tahun 2026. Spekulasi mengenai kemungkinan BI menaikkan suku bunga acuan semakin menguat seiring dengan proyeksi kebijakan dari bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed).

Pasar keuangan global saat ini tengah bersiap menghadapi tren suku bunga tinggi yang diprediksi akan bertahan lebih lama. Berdasarkan data dari CME FedWatch, terdapat peluang sebesar 65 persen bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga acuannya pada pertemuan akhir Oktober mendatang. Langkah agresif Amerika Serikat ini memicu pertanyaan besar di kalangan pelaku pasar: apakah Bank Indonesia akan ikut melakukan langkah serupa untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah?

Suku Bunga BI Bakal Naik Lagikah
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Menanggapi spekulasi tersebut, pihak Bank Indonesia memberikan jawaban yang sangat berhati-hati. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menegaskan bahwa setiap kebijakan moneter yang diambil oleh bank sentral selalu bersifat data dependent. Artinya, keputusan mengenai apakah suku bunga akan naik, tetap, atau turun, sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi terkini.

Erwin menjelaskan bahwa tidak ada pihak yang bisa memastikan secara prematur arah kebijakan BI untuk rapat dewan gubernur (RDG) pada bulan-bulan mendatang. "Suku bunga kebijakan itu sangat bergantung pada data. Tidak ada yang bisa menjamin apa yang akan dilakukan BI pada rapat bulan depan, November, atau Desember nanti," ujar Erwin saat ditemui di Kantor Pusat BI, Jakarta. Meski demikian, ia menjamin bahwa setiap keputusan diambil melalui asesmen mendalam demi menjaga keseimbangan antara stabilitas ekonomi dan pertumbuhan nasional.

Sebagai catatan, BI sebelumnya telah memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 5,75% pada September 2026. Keputusan ini merupakan langkah keempat berturut-turut di mana BI memilih untuk menahan suku bunga di tengah tekanan global. Namun, tantangan ke depan tidaklah mudah. Selain tekanan dari kebijakan The Fed, Indonesia juga harus mewaspadai ancaman inflasi akibat fenomena alam El Nino yang berpotensi memicu lonjakan harga pangan.

Para pengamat ekonomi pun mulai memberikan proyeksi yang lebih berani. Josua Pardede, Chief Economist Bank Permata, memprediksi adanya peluang besar bagi BI untuk menaikkan suku bunga di kuartal keempat tahun 2026. Ia bahkan merevisi perkiraan BI Rate yang bisa menyentuh angka 6,00% di akhir tahun nanti sebagai respons atas kenaikan suku bunga di Amerika Serikat.

Senada dengan hal tersebut, M. Rizal Taufikurahman dari INDEF menambahkan bahwa faktor depresiasi rupiah menjadi kunci utama. Jika nilai tukar rupiah melemah secara signifikan dan arus modal keluar dari Indonesia meningkat, maka kenaikan suku bunga menjadi langkah yang hampir tidak terelakkan guna meredam ekspektasi inflasi dan menjaga stabilitas moneter dalam negeri.

Related Post