Jabarpos.id – Pasar modal Indonesia tengah mengalami guncangan hebat. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penurunan yang cukup signifikan pada perdagangan Kamis (1/10/2026). Tidak hanya sekadar turun, indeks acuan bursa tanah air ini sempat terperosok hingga menembus level psikologis 5.900, sebuah angka yang kerap menjadi batas kewaspadaan para investor.
Kondisi pasar yang tidak menentu ini terjadi di tengah dinamika politik nasional yang sedang memanas. Kabar mengenai perombakan atau reshuffle dalam Kabinet Merah Putih tampaknya memberikan sentimen negatif yang langsung direspons oleh pasar. Ketidakpastian mengenai komposisi kabinet baru membuat para pelaku pasar cenderung bersikap defensif dan memilih untuk menarik diri sejenak dari pasar saham domestik.
Berdasarkan data penutupan perdagangan, IHSG akhirnya mendarat di level 6.009,50, atau merosot sebesar 1,02% dari posisi sebelumnya. Meskipun berhasil bertahan sedikit di atas angka 6.000, tekanan jual yang terjadi sangat terasa. Aktivitas perdagangan di bursa tercatat cukup ramai dengan volume transaksi mencapai 329,48 juta lot. Nilai transaksi yang berpindah tangan pun menyentuh angka fantastis, yakni Rp 11,07 triliun dengan frekuensi transaksi sebanyak 1,58 juta kali.
Also Read
Jika melihat komposisi pergerakan saham, mayoritas emiten terpantau berada di zona merah. Tercatat sebanyak 450 saham mengalami pelemahan harga, sementara hanya 206 saham yang mampu bertahan dan menguat. Sisanya, sebanyak 134 saham, bergerak stagnan tanpa perubahan harga yang berarti.
Hal yang paling mencolok dari perdagangan kemarin adalah aksi jual masif yang dilakukan oleh investor asing. Alih-alih melakukan aksi beli untuk memperkuat indeks, para pemodal mancanegara justru melakukan aksi net foreign sell atau penjualan bersih secara besar-besaran. Total dana yang ditarik oleh investor asing mencapai Rp 241,86 miliar.
Jika dirinci, tekanan jual terbesar terjadi di pasar reguler dengan nilai mencapai Rp 240,43 miliar. Sementara itu, di pasar negosiasi dan pasar tunai, investor asing mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp 1,43 miliar. Fenomena keluarnya modal asing ini menjadi salah satu faktor utama yang memperberat beban IHSG untuk merangkak naik.
Aksi keluar dari pasar ini tidak merata di seluruh sektor. Para investor asing terlihat melakukan konsolidasi dengan melepas sejumlah saham unggulan yang selama ini menjadi penggerak pasar. Berdasarkan data dari Stockbit, terdapat 10 saham yang menjadi target utama penjualan bersih oleh investor asing dalam perdagangan tersebut. Pelepasan saham-saham ini secara kolektif memberikan tekanan gravitasi yang kuat terhadap pergerakan indeks secara keseluruhan.
Para analis memperkirakan bahwa stabilitas politik pasca-reshuffle kabinet akan menjadi kunci utama apakah IHSG mampu kembali ke zona hijau atau justru akan terus mengalami tekanan jual dalam beberapa hari ke depan. Investor kini disarankan untuk lebih berhati-hati dan memperhatikan arah kebijakan pemerintah yang baru sebelum mengambil keputusan investasi yang besar.






