Rupiah Menguat Tipis di Tengah Fluktuasi Global

Author Image

Endang Wulansari

6 Oktober 2026, 15:31 WIB

Jabarpos.id – Mata uang Garuda menunjukkan performa yang cukup stabil dalam perdagangan pada Selasa (6/10/2026). Meskipun sempat mengalami dinamika yang cukup tajam di tengah sesi, rupiah berhasil menutup perdagangan di zona hijau terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan ini memberikan sinyal positif bagi stabilitas nilai tukar domestik, meski skalanya tergolong tipis.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan pada level Rp17.890 per dolar AS. Angka ini menunjukkan penguatan tipis sebesar 0,03 persen jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada perdagangan Senin (5/10/2026) yang berada di level Rp17.895 per dolar AS.

Rupiah Menguat Tipis di Tengah Fluktuasi Global
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Perjalanan nilai tukar rupiah sepanjang hari ini sebenarnya diwarnai dengan volatilitas yang cukup tinggi. Pada pembukaan perdagangan, mata uang nasional sempat menunjukkan taringnya dengan langsung menguat ke posisi Rp17.875 per dolar AS. Namun, momentum apresiasi tersebut tidak bertahan lama. Rupiah sempat tertekan dan melemah hingga menyentuh level Rp17.915 per dolar AS sebelum akhirnya mampu membalikkan keadaan dan kembali menguat di akhir sesi.

Di sisi lain, pelemahan rupiah ini juga dibarengi dengan koreksi pada indeks dolar AS (DXY). Indeks yang menjadi tolok ukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia tersebut tercatat melemah 0,12 persen ke posisi 102,049 pada pukul 15.00 WIB. Sebelumnya, DXY sempat menyentuh level tertinggi di angka 102,285 sebelum akhirnya melandai.

Melemahnya dolar AS ini dipicu oleh perubahan ekspektasi pasar terkait kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Fed. Pasar kini mulai meragukan adanya kenaikan suku bunga pada pertemuan bulan Oktober mendatang. Hal ini terjadi setelah data tenaga kerja AS periode September menunjukkan adanya tanda-tanda pelemahan pada pasar kerja di Negeri Paman Sam tersebut.

Selain faktor suku bunga, sentimen global dari sektor energi juga turut memberikan pengaruh. Harga minyak mentah dunia terpantau mengalami penurunan. Harga minyak Brent terkoreksi sekitar 0,8 persen ke level US$99,49 per barel, sementara WTI turun 1,1 persen ke posisi US$88,43 per barel. Penurunan ini disebabkan oleh membaiknya pasokan minyak dari Timur Tengah serta adanya langkah negara-negara G7 yang melepaskan cadangan minyak darurat mereka.

Bagi Indonesia, tren penurunan harga minyak dunia merupakan kabar baik. Mengingat Indonesia masih merupakan importir minyak, harga yang lebih rendah dapat menekan nilai impor energi dan mengurangi kebutuhan akan dolar AS untuk pembiayaan impor tersebut.

Kini, pelaku pasar di dalam negeri tengah menantikan rilis data cadangan devisa Indonesia periode September yang dijadwalkan oleh Bank Indonesia (BI) pada Rabu besok. Data ini sangat krusial karena menjadi indikator utama ketahanan ekonomi nasional serta menunjukkan kapasitas BI dalam menjaga stabilitas rupiah jika terjadi gejolak pasar global di masa mendatang.

Related Post