IHSG Terperosok Dalam ke Level 6.031

Author Image

Endang Wulansari

9 Oktober 2026, 02:04 WIB

Jabarpos.id – Pasar modal Indonesia kembali menunjukkan tren negatif yang cukup signifikan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada penutupan perdagangan Kamis (8/10/2026), di mana indeks tersebut merosot tajam hingga 1,88 persen. Berdasarkan data penutupan sesi II, IHSG mendarat di level 6.031,28, atau menyusut sebesar 115,44 poin dari posisi sebelumnya.

Pergerakan pasar sejak pembukaan pagi hari sebenarnya sempat memberikan harapan bagi para investor. Pada pukul 09.00 WIB, IHSG dibuka dengan optimisme di level 6.154,97 dan bahkan sempat menyentuh titik tertinggi harian di angka 6.179,09. Namun, euforia penguatan tersebut hanya bertahan sekejap. Tekanan jual yang masif mulai merayap masuk sebelum pukul 10.00 WIB, menyeret indeks turun ke area 6.120.

IHSG Terperosok Dalam ke Level 6.031
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Meski sempat ada upaya pemulihan atau rebound terbatas ke kisaran 6.130, momentum tersebut gagal bertahan. Memasuki sesi kedua, kondisi pasar semakin memburuk. IHSG tidak mampu menahan laju penurunan dan akhirnya menembus level psikologis 6.100. Penurunan terus berlanjut hingga mendekati akhir perdagangan, di mana indeks terperosok ke level terendahnya di 6.031,28.

Dominasi sentimen negatif terlihat dari komposisi pergerakan saham. Tercatat sebanyak 518 saham mengalami pelemahan, sementara hanya 187 saham yang mampu bertahan di zona hijau. Sebaliknya, terdapat 258 saham yang tidak mengalami perubahan harga atau stagnan. Sektor infrastruktur menjadi penyumbang kerugian terbesar dengan anjlok 5 persen, diikuti sektor energi yang turun 2,7 persen, serta sektor material dasar yang terkoreksi 2,6 persen.

Beberapa saham berkapitalisasi besar turut menjadi beban berat bagi indeks, di antaranya adalah BBRI, AMMN, BMRI, BREN, dan BRMS. Di sisi lain, upaya penopang indeks datang dari saham-saham seperti AMRT, KLBF, ASII, BELI, dan APOL, meski tidak cukup kuat untuk membendung arus penjualan.

Secara makro, kondisi ini dipicu oleh ketidakpastian kebijakan moneter global. Fokus investor saat ini tertuju pada hasil risalah Federal Open Market Committee (FOMC) dari The Fed. Sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat tersebut, yang dibarengi dengan lonjakan indeks dolar serta tingginya imbal hasil (yield) US Treasury, memberikan tekanan besar bagi pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kenaikan yield obligasi AS, terutama tenor 10 tahun yang sempat menyentuh level tertinggi sejak tahun 2002, menjadi sinyal waspada bagi investor global. Kondisi ini juga selaras dengan tren pelemahan di bursa saham Asia lainnya, seperti Nikkei 225 Jepang dan Kospi Korea Selatan, yang turut tertekan oleh kenaikan imbal hasil obligasi dunia.

Related Post