Nasib BUMN Karya di Tangan Danantara

Author Image

Endang Wulansari

9 Oktober 2026, 04:04 WIB

Jabarpos.id – Rencana besar pemerintah untuk merombak struktur Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor konstruksi mulai menunjukkan titik terang. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menargetkan proses penggabungan atau merger empat perusahaan BUMN Karya akan rampung pada November 2026 mendatang. Langkah konsolidasi ini diambil sebagai upaya strategis untuk memperkuat fundamental industri konstruksi nasional.

Chief Operating Officer BPI Danantara, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa empat perusahaan yang masuk dalam skema penggabungan ini mencakup PT Nindya Karya (Persero), PT Brantas Abipraya (Persero), serta dua emiten terbuka yakni PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) dan PT PP (Persero) Tbk (PTPP). Dony optimis bahwa seluruh proses administratif dan operasional penggabungan ini dapat diselesaikan paling lambat pada akhir November tahun depan.

Nasib BUMN Karya di Tangan Danantara
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Namun, tidak semua raksasa konstruksi pelat merah bisa langsung masuk dalam gelombang merger pertama ini. Dony mengungkapkan bahwa dua nama besar, yakni PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), masih harus melalui proses pembenahan yang sangat mendalam sebelum layak untuk digabungkan.

Menurut Dony, kondisi keuangan Waskita dan WIKA saat ini belum cukup sehat untuk mengikuti arus konsolidasi tersebut. Kedua perusahaan ini tengah menghadapi tantangan restrukturisasi yang cukup panjang dan kompleks. Salah satu faktor utamanya adalah beban utang yang sangat besar. Sebagai contoh, WIKA diketahui memiliki kewajiban utang yang mencapai angka fantastis, yakni sekitar Rp34 triliun, yang salah satunya bersumber dari proyek strategis nasional Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

"Arah kebijakan Presiden adalah melakukan perbaikan secara tuntas. Kami tidak ingin melakukan perbaikan yang hanya bersifat kosmetik atau sekadar polesan di permukaan saja, karena itu tidak akan berguna dalam jangka panjang," tegas Dony saat memberikan keterangan di Jakarta.

Lebih lanjut, Dony menjelaskan bahwa pemerintah sedang mengkaji masa depan aset-aset yang dimiliki perusahaan tersebut. Untuk Waskita, misalnya, pemerintah tengah meninjau apakah aset jalan tol yang dikelola akan tetap dipertahankan atau ada skema lain yang lebih efisien.

Strategi yang disiapkan Danantara bukan hanya sekadar menggabungkan perusahaan, tetapi juga melakukan diversifikasi aset. Perusahaan akan didorong untuk melepas aset-aset yang berada di luar bisnis inti mereka melalui proses divestasi. Dana yang diperoleh dari penjualan aset tersebut nantinya akan dialokasikan sepenuhnya untuk melunasi beban utang yang selama ini membelenggu perusahaan.

"Sisa utang yang ada akan kami restrukturisasi sesuai dengan kemampuan bayar atau repayment capacity masing-masing perusahaan. Tujuannya agar mereka kembali sehat secara finansial. Jika nantinya perusahaan sudah stabil dan membutuhkan suntikan modal tambahan untuk ekspansi, pemerintah akan mempertimbangkannya kembali," tambah Dony.

Langkah fundamental ini diambil demi menciptakan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) dan memastikan bisnis BUMN Karya dapat berkelanjutan di masa depan. Pemerintah menegaskan bahwa proses ini dilakukan dengan sangat teliti, mempertimbangkan prospek masa depan setiap perusahaan agar tidak menjadi beban negara di kemudian hari.

Related Post