IHSG Terperosok Tajam ke Level 6.083

Author Image

Endang Wulansari

9 Oktober 2026, 06:31 WIB

Jabarpos.id – Pasar modal Indonesia kembali dihantam badai koreksi yang cukup signifikan pada perdagangan Kamis (8/10/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau terjun bebas ke zona merah, mencerminkan sentimen negatif yang melanda investor di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Hingga pertengahan sesi kedua, tepatnya pukul 13.37 WIB, IHSG tercatat berada di level 6.083,68. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 63,04 poin atau merosot sekitar 1,03% dibandingkan penutupan sebelumnya. Aktivitas perdagangan di bursa terlihat cukup intens dengan total volume transaksi mencapai 413,83 juta lot, dengan nilai transaksi yang menembus angka Rp6.424,65 miliar.

IHSG Terperosok Tajam ke Level 6.083
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Perjalanan IHSG pada hari ini tergolong sangat fluktuatif dan penuh tekanan. Pada pembukaan pasar sekitar pukul 09.00 WIB, indeks sebenarnya sempat menunjukkan optimisme dengan menguat ke level 6.154,97. Bahkan, sempat terjadi reli singkat yang membawa indeks menyentuh level tertinggi harian di angka 6.179,09 pada rentang waktu pukul 09.00 hingga 09.30 WIB.

Namun, euforia pagi tersebut tidak bertahan lama. Gelombang tekanan jual yang masif mulai menghantam pasar, menyeret indeks turun drastis hingga ke area 6.100 sebelum menyentuh pukul 10.00 WIB. Meski sempat ada upaya pemulihan atau rebound terbatas ke kisaran 6.120 hingga 6.130 pada pukul 10.00 WIB, momentum penguatan tersebut gagal bertahan. Memasuki siang hari, indeks kembali merosot secara bertahap dan akhirnya menyentuh titik terendah harian di level 6.079,46 pada menit-menit terakhir perdagangan.

Kondisi ini dipicu oleh kombinasi berbagai faktor eksternal yang menekan ketahanan ekonomi domestik. Fokus utama para pelaku pasar saat ini tertuju pada hasil risalah Federal Open Market Committee (FOMC) dari bank sentral Amerika Serikat, The Fed, yang dirilis dini hari tadi. Sikap hawkish dari The Fed, yang ditandai dengan kecenderungan mempertahankan suku bunga tinggi, telah memicu lonjakan indeks dolar AS dan kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury.

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi ancaman nyata bagi pasar saham negara berkembang (emerging markets) seperti Indonesia. Investor cenderung menarik modal dari aset berisiko untuk beralih ke instrumen yang lebih aman di Amerika Serikat. Sebagai catatan, yield obligasi Treasury AS tenor 10 tahun sempat menyentuh level tertinggi sejak tahun 2002, yang secara otomatis menekan nilai tukar rupiah dan minat investasi di bursa domestik.

Kondisi serupa juga terjadi di kawasan Asia. Bursa saham Jepang (Nikkei 225), Korea Selatan (Kospi), dan Australia (S&P/ASX 200) semuanya bergerak melemah pada perdagangan Kamis ini. Fenomena ini menunjukkan bahwa tekanan dari pasar obligasi global sedang terjadi secara serentak, yang memaksa investor di seluruh dunia untuk bersikap lebih berhati-hati terhadap aset ekuitas.

Related Post