Waskita Karya Masih Terpuruk

Author Image

Endang Wulansari

13 Oktober 2026, 15:04 WIB

Jabarpos.id – Kinerja keuangan PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) masih menunjukkan rapor merah meskipun perusahaan berhasil mencatatkan lonjakan pendapatan yang sangat signifikan. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim yang belum diaudit, raksasa konstruksi milik negara ini masih membukukan kerugian bersih yang cukup dalam hingga periode 30 September 2026.

Berdasarkan data terbaru, rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp2,87 triliun. Meski angka ini terlihat lebih baik jika dibandingkan dengan kerugian pada periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp3,17 triliun, namun kondisi ini menunjukkan bahwa perusahaan masih berjuang keras untuk keluar dari zona merah. Seiring dengan penurunan kerugian tersebut, nilai rugi per saham dasar juga mengalami penyusutan menjadi Rp99,70, turun dari posisi sebelumnya sebesar Rp110,21 per saham.

Waskita Karya Masih Terpuruk
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Lonjakan Pendapatan yang Kontras

Menariknya, dari sisi pendapatan usaha, Waskita justru menunjukkan pertumbuhan yang sangat agresif. Perusahaan berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp8,13 triliun, melonjak tajam 53,73% dibandingkan periode 9 bulan pertama tahun 2025 yang hanya sebesar Rp5,29 triliun.

Pertumbuhan paling mencolok terlihat pada segmen jasa konstruksi yang tumbuh hingga 71,46% secara tahunan (yoy), menyumbang Rp6,45 triliun terhadap total pendapatan. Sektor jalan tol juga memberikan kontribusi positif dengan pertumbuhan 14,93% menjadi Rp987,74 miliar. Sebaliknya, sektor penjualan precast justru mengalami penurunan sebesar 28,45% menjadi Rp362,45 miliar.

Salah satu pendorong utama kenaikan pendapatan ini adalah peran Kementerian Pekerjaan Umum. Sebagai pemberi kerja terbesar, kementerian ini menyumbang pendapatan sebesar Rp3,91 triliun, sebuah angka yang melonjak lebih dari empat kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Margin Tergerus Beban Operasional

Sayangnya, kenaikan pendapatan yang masif ini tidak berbanding lurus dengan perolehan laba. Waskita justru mengalami tekanan pada margin laba kotor. Hal ini disebabkan oleh pembengkakan beban pokok pendapatan yang melonjak menjadi Rp7,17 triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang hanya Rp4,31 triliun. Akibatnya, laba bruto perseroan justru menyusut 2,09% menjadi Rp959,44 miliar.

Beban keuangan tetap menjadi "momok" utama bagi kesehatan finansial Waskita. Hingga akhir September 2026, beban keuangan tercatat sebesar Rp2,79 triliun. Selain itu, perusahaan juga harus menanggung kerugian dari entitas asosiasi dan ventura bersama sebesar Rp149,41 miliar.

Kondisi Ekuitas yang Mengkhawatirkan

Kondisi neraca keuangan Waskita juga menunjukkan tantangan yang berat. Meskipun total aset naik tipis 3,30% menjadi Rp73,07 triliun, namun total liabilitas justru meningkat 7,41% menjadi Rp72,03 triliun. Dampaknya, total ekuitas anjlok drastis sebesar 71,71% menjadi Rp1,04 triliun.

Bahkan, ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat negatif sebesar Rp3,34 triliun, memburuk dari posisi negatif Rp1,03 triliun pada akhir tahun 2025. Kondisi ini diperparah dengan posisi kas dan setara kas yang merosot tajam sebesar 65,90% menjadi Rp1,50 triliun.

Menghadapi situasi ini, manajemen Waskita tengah menjalankan delapan strategi penyehatan keuangan. Langkah-langkah tersebut meliputi divestasi bertahap pada ruas jalan tol, pemanfaatan penjaminan pemerintah, hingga restrukturisasi utang secara menyeluruh, baik pada tingkat induk maupun anak usaha, guna menjaga keberlangsungan bisnis di masa depan.

Related Post