<strong>Jabarpos.id – Sektor pembiayaan alat berat di Indonesia tengah menunjukkan tren yang cukup mengkhawatirkan. Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penyaluran kredit untuk sektor ini mengalami stagnasi yang cukup signifikan. Hingga periode Agustus 2026, pertumbuhan pembiayaan alat berat hanya mampu mencatatkan angka tipis sebesar 0,12 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
Dengan pertumbuhan yang hampir tidak bergerak tersebut, total nilai pembiayaan alat berat saat ini berada di angka Rp48,50 triliun. Kondisi ini memicu pertanyaan besar di kalangan pelaku industri mengenai apa yang sebenarnya terjadi di lapangan dan mengapa permintaan terhadap alat-alat pendukung industri ini tampak melambat.
Kepala Eksekutif Pengawas Perusahaan Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, mengungkapkan bahwa meskipun saat ini sedang menghadapi tantangan berat, ia tetap optimistis. Menurutnya, dinamika ekonomi global memang menjadi faktor penghambat, namun prospek ke depan masih terbuka lebar.
Also Read
"Ke depan, pembiayaan alat berat diperkirakan tetap tumbuh positif seiring dengan perkembangan aktivitas pada sektor-sektor pengguna alat berat," ujar Agusman dalam keterangannya terkait Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) September 2026.
Salah satu secercah harapan yang disoroti OJK adalah sektor energi terbarukan. Pemerintah tengah gencar mendorong berbagai proyek hijau, seperti pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan target 100 GWp hingga proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Proyek-proyek berskala besar ini dipastikan akan membutuhkan dukungan alat berat dalam proses konstruksi dan operasionalnya. Hal ini dipandang sebagai peluang diversifikasi bagi perusahaan multifinance untuk memperluas portofolio mereka.
Namun, lesunya sektor alat berat ini ternyata tidak berdiri sendiri. Fenomena ini sejalan dengan penurunan pembiayaan multifinance di sektor produktif secara keseluruhan. Per Agustus 2026, pembiayaan ke sektor produktif terkontraksi 1,81 persen menjadi Rp241,88 triliun. Selain itu, pembiayaan investasi juga mengalami penurunan sebesar 4,47 persen menjadi Rp169,12 triliun. Kontras dengan itu, pembiayaan modal kerja justru menunjukkan tren positif dengan kenaikan 5,40 persen.
Menariknya, di tengah lesunya penyaluran kredit ke sektor produktif, industri multifinance justru mencatatkan performa keuangan yang sangat sehat. Laba bersih industri ini melonjak tajam sebesar 19,04 persen secara tahunan menjadi Rp17,38 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun penyaluran kredit sedang menantang, perusahaan pembiayaan mampu menjaga efisiensi dan profitabilitas mereka.
Dalam hal portofolio, kendaraan bermotor masih mendominasi pasar, meskipun mengalami sedikit penurunan. Namun, ada tren menarik di mana pembiayaan kendaraan listrik dan hybrid justru melesat hingga 34,67 persen. Saat ini, industri ini didukung oleh 144 perusahaan pembiayaan, di mana mayoritas adalah perusahaan konvensional dan sebagian kecil merupakan perusahaan syariah. OJK menegaskan akan terus mengawal industri ini dengan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko yang ketat.





