Prancis Incar Tambang Nikel Raksasa di Indonesia

Author Image

Endang Wulansari

14 Oktober 2026, 02:04 WIB

Jabarpos.id – Pemerintah Prancis mengambil langkah drastis untuk mengamankan kepentingan strategis mereka di sektor mineral global. Melalui suntikan dana fantastis mencapai Rp10 triliun, negara tersebut bersiap memperkuat kendali atas Eramet, perusahaan tambang raksasa yang memiliki aset nikel sangat besar di Indonesia.

Langkah besar ini diambil sebagai upaya penyelamatan finansial sekaligus strategi geopolitik untuk mengamankan pasokan bahan baku kritis. Berdasarkan laporan terbaru, pemerintah Prancis yang sebelumnya hanya memegang 27% saham, berencana meningkatkan kepemilikannya hingga mencapai 49%. Rencana penambahan modal senilai 500 juta euro ini ditargetkan rampung pada kuartal keempat tahun ini.

Prancis Incar Tambang Nikel Raksasa di Indonesia
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Dalam skema aksi korporasi tersebut, pemerintah Paris akan menyerap seluruh jatah saham baru yang diterbitkan. Tidak hanya itu, mereka juga akan membeli hak milik keluarga Duval, yang selama ini memegang kendali mayoritas dengan porsi 37% saham. Dengan masuknya dana negara secara masif, dominasi keluarga Duval dipastikan akan tergerus atau mengalami dilusi.

Keputusan ini bukan tanpa persaingan. Sebelumnya, sejumlah investor global sempat melirik peluang ini, termasuk konsorsium Orion Critical Mineral yang didukung oleh Amerika Serikat dan dana kekayaan negara Abu Dhabi. Namun, tawaran dari pemerintah Prancis dinilai sebagai solusi paling cepat dan tepat untuk menstabilkan kondisi keuangan perusahaan yang sedang tertekan.

Menteri Keuangan Prancis, Roland Lescure, menegaskan bahwa Eramet merupakan aset yang sangat krusial, tidak hanya bagi Prancis tetapi juga bagi ketahanan industri di seluruh Eropa. Suntikan modal ini dianggap mutlak diperlukan untuk memulihkan keseimbangan keuangan perusahaan yang sempat mengalami masa sulit.

Kondisi keuangan Eramet memang sedang berada di titik nadir. Perusahaan ini mengalami tekanan hebat akibat merosotnya harga beberapa komoditas mineral global serta kebijakan pemangkasan kuota penambangan nikel di Indonesia. Sebagai salah satu pemain utama nikel di tanah air melalui proyek Weda Bay di Halmahera Tengah, perubahan regulasi di Indonesia berdampak langsung pada kinerja operasional mereka.

Selain masalah pasar, Eramet juga sempat diguncang oleh krisis internal terkait tata kelola perusahaan. Perombakan besar-besaran di jajaran direksi, termasuk pemecatan CEO dan Direktur Keuangan, sempat menciptakan ketidakpastian di mata investor.

Dengan memperkuat kepemilikan di Eramet, Prancis secara tidak langsung sedang memperkuat posisinya dalam perlombaan global mengamankan mineral kritis. Langkah ini menjadi pesan kuat bagi dominasi negara lain dalam rantai pasok nikel dan litium dunia, yang sangat dibutuhkan untuk industri energi masa depan.

Related Post