Jabarpos.id – Kondisi pasar modal Indonesia yang sedang mengalami fluktuasi tajam menjadi tantangan besar bagi para pelaku investasi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah kini harus menghadapi realita penurunan yang cukup signifikan. Menanggapi situasi ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan imbauan penting bagi seluruh investor agar tidak terjebak dalam kepanikan yang dapat merugikan finansial mereka.
Kepala Departemen Pengawasan Lembaga Efek OJK, Edi Broto Suwarno, menekankan bahwa kunci utama dalam menghadapi dinamika pasar adalah memiliki ketahanan mental atau resiliensi. Dalam sebuah acara bertajuk Ring The Bell For Financial Literacy 2026 yang digelar di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Edi menyampaikan bahwa menjadi investor yang tangguh bukan berarti tidak pernah mengalami kerugian. Sebaliknya, investor yang kuat adalah mereka yang mampu bangkit dan belajar dari pengalaman pahit saat portofolio mereka memerah.
Edi menjelaskan bahwa pergerakan harga saham sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari perubahan kondisi ekonomi makro hingga sentimen pasar yang seringkali tidak terduga. Oleh karena itu, mengandalkan pengetahuan teknis saja tidaklah cukup. Seorang investor wajib memiliki kemampuan dalam mengelola emosi serta kecakapan dalam memitigasi risiko.
Also Read
"Jangan terburu-buru membeli saham hanya karena melihat orang lain meraup keuntungan besar. Sebaliknya, jangan pula mengambil keputusan secara panik saat pasar sedang mengalami tren penurunan," tegas Edi. Ia mengingatkan agar setiap keputusan investasi harus didasarkan pada pertimbangan rasional, bukan sekadar mengikuti arus atau rasa takut yang berlebihan.
Untuk membangun ketahanan tersebut, OJK menyarankan beberapa langkah strategis. Pertama, investor harus memiliki tujuan investasi yang jelas sejak awal. Kedua, sangat penting untuk menyiapkan dana darurat agar kebutuhan hidup tidak terganggu saat pasar sedang lesu. Ketiga, lakukan diversifikasi aset untuk menyebar risiko, serta pastikan besaran modal yang diinvestasikan sesuai dengan kemampuan finansial dan profil risiko masing-masing individu.
Kondisi pasar saat ini memang sedang tidak dalam performa terbaiknya. Secara year to date (ytd), IHSG tercatat telah anjlok sebesar 31,27%. Padahal, pada Januari lalu, indeks ini sempat mencatatkan rekor tertinggi di level 9.174,47. Penurunan ini berdampak langsung pada kapitalisasi pasar yang kini berada di angka Rp10.452 triliun.
Jika menilik data tahun sebelumnya, perbandingan penurunan ini terlihat sangat kontras. Pada Desember 2025, IHSG sempat berada di level 8.710,70 dengan nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp16.000 triliun. Artinya, telah terjadi penyusutan nilai kapitalisasi pasar sebesar Rp5.548 triliun atau sekitar 34,68% dibandingkan titik puncaknya tahun lalu. Di tengah situasi ini, OJK berharap masyarakat tidak hanya sekadar berani terjun ke pasar modal, tetapi juga siap secara mental dan strategi dalam menghadapi risiko yang menyertainya.






