Strategi Indonesia Kurangi Dominasi Dolar

Author Image

Endang Wulansari

27 Oktober 2026, 06:04 WIB

Jabarpos.id – Pemerintah Indonesia melalui Bank Indonesia (BI) terus menunjukkan komitmen kuat untuk melepaskan ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat dalam aktivitas perdagangan internasional. Langkah strategis ini dilakukan melalui penguatan skema Local Currency Transaction (LCT), sebuah mekanisme yang memungkinkan negara-negara mitra dagang melakukan transaksi menggunakan mata uang lokal masing-masing.

Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa tren penggunaan mata uang lokal ini menunjukkan pertumbuhan yang sangat signifikan. Berdasarkan proyeksi terbaru, nilai transaksi non-dolar Indonesia dengan negara mitra diperkirakan akan melonjak tajam hingga mencapai angka US$ 55 miliar atau setara dengan Rp998,08 triliun pada akhir tahun 2026.

Strategi Indonesia Kurangi Dominasi Dolar
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Angka fantastis ini mencerminkan lonjakan pertumbuhan yang luar biasa. Jika dibandingkan dengan realisasi transaksi LCT pada akhir tahun 2025 yang berada di angka US$ 25 miliar, maka proyeksi tahun 2026 ini menunjukkan pertumbuhan hingga 120 persen. Destry menjelaskan bahwa dalam forum investasi teknologi di Jakarta baru-baru ini, salah satu kontributor utama dalam peningkatan volume transaksi ini adalah kerja sama perdagangan dengan China.

"Perkiraan pada akhir tahun ini akan mencapai sekitar 55 miliar USD, padahal pada tahun sebelumnya kita baru mencatat sekitar 25 miliar USD. Kontribusi terbesar datang dari China," ujar Destry dalam acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026.

Langkah berani ini bukan tanpa alasan yang kuat. Destry menegaskan bahwa semakin masifnya penggunaan LCT akan memberikan dampak positif langsung terhadap stabilitas ekonomi nasional. Salah satu manfaat utamanya adalah menekan permintaan terhadap dolar AS di pasar domestik. Dengan berkurangnya ketergantungan pada mata uang hijau tersebut, nilai tukar Rupiah diharapkan dapat bergerak lebih stabil dan seimbang.

Selain menjaga stabilitas nilai tukar, kebijakan ini juga menjadi senjata ampuh untuk memperbaiki defisit transaksi berjalan Indonesia. Tercatat pada kuartal II-2026, defisit transaksi berjalan sempat menyentuh level 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Melalui pendekatan bilateral yang intensif, BI optimis kondisi ini dapat diperbaiki secara bertahap.

Data menunjukkan bahwa efektivitas kebijakan ini sudah mulai terlihat sejak dini. Hingga Agustus 2026, nilai transaksi LCT telah menyentuh angka US$ 49,4 miliar. Capaian ini hampir dua kali lipat lebih besar jika dibandingkan dengan total realisasi sepanjang tahun 2025 yang hanya sebesar US$ 25,7 miliar.

Saat ini, Indonesia tidak sendirian dalam gerakan ini. Indonesia telah menjalin kerja sama LCT dengan tujuh negara mitra strategis, yang meliputi China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, Uni Emirat Arab (UEA), dan Singapura. Melalui jaringan kemitraan yang luas ini, Indonesia optimis dapat memperkuat kedaulatan ekonomi nasional di kancah global.

Related Post