Kekhawatiran terhadap nilai tukar rupiah kembali mencuat. Saat ini, pergerakan mata uang Garuda yang sempat menyentuh angka Rp17.460 per dolar AS menjadi sorotan publik. Kondisi ini, menurut laporan jabarpos.id, tak pelak membangkitkan memori kelam krisis ekonomi 1998, ketika dolar AS melonjak drastis hingga menyentuh Rp16.800.
Krisis yang melanda Indonesia pada 1998 itu bukan sekadar gejolak ekonomi, melainkan badai multidimensional yang mengguncang stabilitas politik, berujung pada lengsernya Presiden Soeharto setelah lebih dari tiga dekade berkuasa. Ketika tongkat estafet kepemimpinan beralih ke tangan B.J. Habibie, harapan akan pemulihan ekonomi masih diselimuti keraguan. Pelaku pasar dan bahkan pemimpin negara tetangga seperti Lee Kuan Yew, meragukan kapasitas Habibie. Ia dikenal sebagai teknokrat visioner di bidang kedirgantaraan, bukan ahli ekonomi, dan masih dianggap bagian dari rezim Orde Baru yang baru saja tumbang.

Namun, semua prediksi pesimis itu terpatahkan. Dengan keberanian dan strategi jitu, Habibie berhasil membalikkan keadaan, menaklukkan dominasi dolar AS yang kala itu begitu perkasa. Bagaimana caranya?
1. Restrukturisasi Sektor Perbankan
Langkah pertama yang diambil Habibie adalah menata ulang sektor perbankan yang carut-marut. Kebijakan Paket Oktober 1988 (Pakto 88) di era Orde Baru memang memudahkan pendirian bank, namun tanpa diimbangi pengawasan dan kapasitas yang memadai, membuat banyak bank kolaps saat krisis. Habibie bertindak tegas. Ia mencabut aturan tersebut dan melakukan konsolidasi besar-besaran, salah satunya dengan menggabungkan empat bank milik pemerintah menjadi entitas tunggal yang kini kita kenal sebagai Bank Mandiri.
Tak hanya itu, ia juga memperkuat independensi Bank Indonesia dengan menerbitkan UU No. 23 Tahun 1999, memisahkannya dari intervensi pemerintah. Dalam otobiografinya, "B.J. Habibie: Detik-detik yang Menentukan" (2006), Habibie menegaskan bahwa langkah ini krusial untuk menjaga objektivitas dan kekuatan rupiah.
2. Kebijakan Moneter yang Ketat
Selanjutnya, Habibie menerapkan kebijakan moneter yang ketat. Ia menerbitkan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan tingkat bunga yang tinggi. Tujuannya jelas: mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan. Dengan bunga menarik, masyarakat diharapkan kembali menabung, sehingga peredaran uang di masyarakat berkurang dan inflasi dapat terkendali.
Strategi ini terbukti efektif. Pria berdarah Sulawesi itu mengklaim bahwa suku bunga yang sempat melambung hingga 60% berhasil ditekan turun drastis menjadi belasan persen, menandakan pulihnya kepercayaan pasar terhadap sistem perbankan.
3. Pengendalian Harga Kebutuhan Pokok
Terakhir, Habibie fokus pada pengendalian harga kebutuhan pokok. Di tengah krisis, ia mempertahankan subsidi untuk listrik dan Bahan Bakar Minyak (BBM), memastikan harga-harga vital tetap terjangkau oleh masyarakat. Kebijakan ini, meski penting, juga diwarnai kontroversi. Dalam salah satu pidatonya, Habibie sempat menganjurkan rakyat untuk berpuasa Senin-Kamis sebagai bentuk penghematan di masa sulit, sebuah pernyataan yang dicatat oleh A. Makmur Makka dalam buku "Inspirasi Habibie" (2020).
Kombinasi ketiga strategi tersebut terbukti menjadi jurus ampuh. Kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia berangsur pulih, menarik kembali aliran investasi asing. Puncaknya, nilai tukar dolar AS yang sempat tak terkendali berhasil dijinakkan, kembali menguat ke level Rp6.550. Sebuah pencapaian luar biasa dari seorang teknokrat yang awalnya diragukan, namun mampu membuktikan diri sebagai penyelamat ekonomi bangsa di masa-masa paling genting.




