Beranda / Berita / IHSG Merana Jelang Libur Panjang

IHSG Merana Jelang Libur Panjang

IHSG Merana Jelang Libur Panjang

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok pada perdagangan Selasa kemarin, melanjutkan tren pelemahan setelah sempat menguat sehari sebelumnya. Data yang dihimpun jabarpos.id menunjukkan, pada penutupan sesi kedua, IHSG anjlok 76,16 poin atau setara 1,23%, mengakhiri perdagangan di level 6.130,19. Penurunan ini terjadi menjelang libur panjang Idul Adha, memicu sentimen ‘wait and see’ di kalangan investor.

Sepanjang hari, pergerakan indeks sempat menyentuh rentang 6.124,79 hingga 6.286,87. Aktivitas perdagangan juga mencatatkan nilai transaksi fantastis sebesar Rp 18,1 triliun, melibatkan 24,88 miliar saham yang berpindah tangan dalam 1,96 juta kali transaksi.

IHSG Merana Jelang Libur Panjang
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Kondisi pasar didominasi oleh saham-saham yang melemah, dengan 447 emiten mencatatkan koreksi harga, berbanding 241 saham yang menguat, dan 133 lainnya stagnan. Sektor-sektor yang paling terpukul meliputi konsumer primer, properti, dan finansial. Beberapa saham blue chip berkapitalisasi pasar besar turut menjadi beban utama, di antaranya Astra International (ASII) yang menyumbang pelemahan 18,95 poin, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dengan -15,68 poin, serta Bank Central Asia (BBCA) yang terkoreksi -11,71 poin.

Baca juga:  Rahasia Cuan Miliaran dari Modal 30 Juta?

Sentimen ‘wait and see’ memang menjadi bayang-bayang utama pasar keuangan domestik hari itu, mengingat adanya libur panjang perayaan Idul Adha. Pasar akan ditutup pada Rabu dan Kamis, dan baru akan kembali beroperasi pada Jumat mendatang.

Di kancah global, dinamika geopolitik turut memengaruhi sentimen investor. Negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran di Doha dilaporkan menunjukkan kemajuan, termasuk pembahasan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz dan isu nuklir Iran. Kendati demikian, kedua belah pihak masih belum sepenuhnya yakin kesepakatan dapat tercapai dalam waktu dekat. Optimisme awal terhadap potensi meredanya ketegangan ini sempat membuat harga minyak dunia anjlok, dengan Brent turun 7% menjadi US$96,14 per barel dan WTI melemah lebih dari 6% ke US$90,30 per barel.

Baca juga:  BUMN Karya Dipastikan Jadi Lebih Sedikit, Kejutan Merger Tahun Ini?

Presiden AS Donald Trump menyatakan pembicaraan dengan Iran berjalan baik, namun tak segan memperingatkan kemungkinan serangan balik jika negosiasi menemui jalan buntu. Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa jalur diplomasi tetap menjadi prioritas utama. Di sisi lain, ketegangan regional masih membara, dengan Israel yang terus meningkatkan serangan terhadap Hezbollah di Lebanon, dan Iran mengklaim berhasil menembak jatuh drone siluman di kawasan Teluk Persia. Ketidakpastian ini, yang sebelumnya sempat memicu lonjakan harga minyak dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz, masih menjadi perhatian.

Baca juga:  OJK Rombak Total Aturan Asuransi dan Dana Pensiun

Di kawasan Asia, bursa saham bergerak variatif, mencerminkan campuran optimisme dan kehati-hatian. Indeks utama Korea Selatan, KOSPI, bahkan mencetak rekor baru dengan melesat ke level tertinggi sepanjang masa di 8.094,90, diikuti penguatan Kosdaq sebesar 2,12%. Namun, di Jepang, indeks Nikkei 225 terkoreksi 0,18% setelah sehari sebelumnya menembus level psikologis 65.000. Indeks Topix juga melemah 0,36% akibat aksi ambil untung investor. Sementara itu, S&P/ASX 200 Australia terkoreksi 0,17% pada awal perdagangan, dan futures indeks Hang Seng Hong Kong juga terpantau bergerak lebih rendah.