Modal Es Jadi Miliarder

Author Image

Endang Wulansari

22 Juni 2026, 00:04 WIB

Siapa sangka, di era Hindia Belanda, bisnis es bisa menjadi jalan tol menuju kekayaan fantastis. Seorang pengusaha pribumi bernama Tasripin, misalnya, berhasil mengumpulkan harta yang jika dihitung hari ini mencapai hampir Rp10 triliun. Kisah inspiratif ini diungkap oleh jabarpos.id.

Pada awal abad ke-20, Tasripin tercatat sebagai salah satu individu paling tajir di Nusantara. Ketika meninggal dunia pada 1919, sebuah surat kabar kolonial, De Nieuwe Vorstenlanden, melaporkan asetnya mencapai 45 juta gulden. Untuk memberi gambaran, jumlah itu setara dengan daya beli 750 juta liter beras di zamannya, mengingat harga beras kala itu hanya 6 sen per liter. Jika dikonversi ke nilai tukar saat ini, dengan asumsi harga beras Rp13 ribu per liter, kekayaan Tasripin menyentuh angka Rp9,7 triliun, mendekati Rp10 triliun. Sumber kekayaan luar biasa ini? Penjualan es. Di masa itu, tanpa teknologi pendingin modern, es adalah komoditas langka dan mewah, menjadikannya primadona dengan harga jual tinggi dan permintaan tak pernah surut.

Modal Es Jadi Miliarder
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Bisnis es, yang kala itu menjanjikan profit besar, dimanfaatkan Tasripin dengan cerdik. Menurut catatan harian de Locomotief pada Juli 1902, pabrik es pertamanya berlokasi di Ungaran, Semarang. Tak berhenti di situ, delapan tahun berselang, tepatnya pada 1910, ia membuka pabrik es kedua di Petelan, Semarang. Pabrik yang dioperasikan langsung oleh pria kelahiran 1834 ini disebut-sebut sebagai yang terbesar di wilayah tersebut, semakin mengukuhkan dominasinya di pasar es.

Kecerdasan bisnis Tasripin tidak terbatas pada es. Ia juga merambah sektor lain, memiliki rumah penjagalan dan aktif dalam perdagangan kulit hewan. Diversifikasi ini semakin melambungkan kekayaannya, dengan estimasi pendapatan bulanan mencapai 30-40 ribu gulden. Tak heran jika ia memiliki properti melimpah berupa rumah dan tanah di Semarang, serta jaringan pabrik es yang terus meluas. Kiprahnya sebagai ‘raja es’ berakhir pada 1919 saat ia wafat. Bisnisnya memang dilanjutkan oleh keluarga, namun jejaknya kemudian memudar. Meski begitu, Tasripin tetap dikenang sebagai salah satu pribumi terkaya di Indonesia, yang pondasi kekayaannya dibangun dari seonggok es.

Namun, Tasripin bukanlah satu-satunya ‘raja es’ di era kolonial. Di Semarang, hiduplah Kwa Wan Hong, seorang pengusaha es yang meski tak sekaya Tasripin, namun diakui sebagai pionir industri es di Nusantara. Pada 1895, Kwa mendirikan pabrik es Hoo Hien, yang menurut sejarawan Denys Lombard, memproduksi es melalui reaksi kimia campuran garam dan amonia. Inovasinya ini merevolusi konsumsi es di Indonesia, menjadikannya lebih terjangkau dari yang semula mewah. Berkat Kwa, masyarakat mulai bisa menikmati minuman dingin, bahkan memicu lahirnya industri es krim pertama di masa kolonial. Meskipun detail kekayaannya tidak sejelas Tasripin, Kwa dikenal memiliki aset berlimpah, termasuk tanah, rumah, dan pabrik es di berbagai lokasi.

Di Magelang, kisah sukses serupa datang dari Robert Chevalier. Ia membangun kekayaannya melalui NV. Magelangsche Ijs en Mineralwater Fabriek sejak 1920, mengoperasikan tiga pabrik es. Sayangnya, kejayaan Chevalier harus runtuh saat invasi Jepang pada 1942, yang mengakhiri bisnisnya dengan kebangkrutan.

Kisah Tasripin, Kwa Wan Hong, dan Robert Chevalier adalah bukti nyata bahwa di masa lalu, es bukan sekadar pendingin, melainkan komoditas emas yang mampu mengubah nasib. Jauh sebelum kulkas menjadi barang lumrah, bisnis es adalah jalan pintas menuju kemakmuran, mencetak para miliarder yang namanya kini teruk dalam sejarah ekonomi Nusantara.

Related Post