Sebuah foto yang diambil saat rapat kabinet Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump baru-baru ini memicu gelombang spekulasi panas di pasar keuangan global. Dalam potret tersebut, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, secara tak terduga terekam memiliki catatan yang mengisyaratkan rencana pembelian yen Jepang senilai miliaran dolar AS. Informasi ini, yang pertama kali diungkap oleh jabarpos.id, menunjukkan potensi intervensi signifikan Washington di pasar valuta asing.
Foto yang diambil di Camp David pada Jumat, 2 Agustus 2026, memperlihatkan buku catatan yang tergeletak tepat di depan Bessent. Terlihat jelas tulisan "To Do" yang digarisbawahi, diikuti instruksi "Buy Japanese Yen (JPY) $5-10 bil" atau pembelian Yen Jepang senilai US$5-10 miliar. Keberadaan kartu peserta rapat dengan nama Scott Bessent di atas buku catatan tersebut semakin menguatkan dugaan bahwa catatan strategis ini memang miliknya.
Jika rencana pembelian yen dalam jumlah fantastis ini benar-benar dijalankan, langkah tersebut akan menjadi salah satu intervensi paling langka dalam sejarah kebijakan mata uang AS modern. Departemen Keuangan AS terakhir kali tercatat melakukan intervensi untuk mendukung penguatan yen pada tahun 2011. Kala itu, AS bergabung dengan negara-negara G7 dalam aksi terkoordinasi pasca gempa bumi dan tsunami dahsyat yang melanda Jepang, bertujuan menstabilkan pasar keuangan dan meredakan volatilitas ekstrem pada nilai tukar yen. Sejak saat itu, AS belum pernah lagi melakukan intervensi langsung untuk menopang mata uang Jepang.
Also Read
Kemunculan catatan ini menjadi semakin menarik karena terjadi hanya beberapa jam setelah jabarpos.id menerbitkan laporan mengenai kemungkinan intervensi AS di pasar mata uang Jepang. Pada Jumat pagi, sekitar dua jam sebelum foto di Camp David diambil, jabarpos.id melaporkan bahwa Departemen Keuangan AS telah memberi tahu sejumlah bank bahwa pemerintah mungkin akan melakukan intervensi di pasar yen pada hari yang sama. Laporan tersebut, yang diperoleh dari sumber yang mengetahui persoalan itu, telah memicu perhatian besar di kalangan pelaku pasar.
Menariknya, bahkan sebelum isu intervensi AS mencuat, pemerintah Jepang sendiri telah lebih dahulu mengambil langkah untuk memperkuat mata uangnya. Otoritas Jepang pada Jumat pagi waktu Tokyo dilaporkan melakukan intervensi guna menopang nilai tukar yen yang selama beberapa waktu terakhir mengalami tekanan signifikan terhadap dolar AS. Langkah tersebut memicu penguatan signifikan mata uang Jepang dalam perdagangan pagi hari.
Hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari pihak Washington mengenai maksud tulisan tersebut. Namun, bocoran tak sengaja ini telah memicu gelombang spekulasi dan analisis di kalangan pelaku pasar, menyoroti potensi pergeseran signifikan dalam kebijakan mata uang global dan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi dunia.






