Petunjuk Gaib di Balik Kerajaan Bisnis

Author Image

Endang Wulansari

31 Agustus 2026, 00:04 WIB

Gunung Kawi di Malang, Jawa Timur, lebih dari sekadar destinasi wisata biasa. Bagi sebagian kalangan, tempat ini menyimpan kisah-kisah mistis dan kepercayaan yang diyakini mampu membuka gerbang kesuksesan finansial. Dua nama besar di dunia bisnis Indonesia disebut-sebut memiliki ikatan kuat dengan Gunung Kawi, menjadikan tempat ini bagian tak terpisahkan dari perjalanan mereka menuju puncak kekayaan. Informasi ini dihimpun oleh jabarpos.id dari berbagai sumber terpercaya.

Salah satu figur yang kerap dikaitkan adalah Ong Hok Liong, pendiri kerajaan rokok Bentoel. Menurut sejarawan George Quinn dalam bukunya "Wali Berandal Tanah Jawa" (2021), Ong adalah seorang pengusaha yang sangat tekun berziarah ke Gunung Kawi. Ia datang untuk memohon restu dan petunjuk dari Eyang Jugo serta Iman Soedjono demi kelancaran bisnisnya.

Petunjuk Gaib di Balik Kerajaan Bisnis
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Pada tahun 1954, sebuah peristiwa penting terjadi. Ong dikisahkan tertidur di dekat makam dan mengalami mimpi aneh: melihat bongkahan ubi talas. Setelah terbangun, ia segera menanyakan arti mimpi tersebut kepada juru kunci makam. Juru kunci menafsirkan bahwa itu adalah isyarat dari Eyang Jugo agar Ong mengganti nama pabriknya, Stroothes-Fabriek, yang kala itu belum menunjukkan perkembangan signifikan.

Mengikuti petunjuk tersebut, Ong mengganti nama merek rokoknya menjadi "Bentoel," sebuah nama yang diambil dari sebutan lokal masyarakat Malang untuk ubi talas yang muncul dalam mimpinya. Keputusan ini terbukti menjadi titik balik. Penjualan Bentoel melonjak drastis, hingga mampu mempekerjakan 3.000 karyawan dan menjelma menjadi salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia.

Tak hanya Ong Hok Liong, nama Liem Sioe Liong, pendiri Salim Group, juga tercatat memiliki kedekatan spiritual dengan Gunung Kawi. Dalam buku "Liem Sioe Liong dan Salim Group: Pilar Bisnis Soeharto" (2016) karya Richard Borsuk dan Nancy Chng, diungkapkan bahwa Liem rutin melakukan perjalanan dari Surabaya ke Gunung Kawi, bahkan tiga hingga lima kali dalam setahun.

Ketika menghadapi keputusan bisnis besar, Liem akan berdiam diri di kuil China di kawasan tersebut. Di sana, ia mencari petunjuk dari peramal dan menjalankan serangkaian ritual. Salah satu metode yang sering digunakannya adalah menggoyangkan tabung bambu berisi lidi-lidi bertuliskan tertentu hingga salah satunya keluar, yang kemudian akan dibaca dan ditafsirkan oleh rahib atau peramal.

Sebuah kisah legendaris menyebutkan bahwa keputusan Liem menunjuk Mochtar Riady untuk mengembangkan Bank Central Asia (BCA) juga dipengaruhi oleh keyakinan yang ia peroleh setelah menemui peramal di Gunung Kawi. "Sekembalinya dari Gunung Kawi [menemui peramal], dengan keyakinan dia berkata kalau ‘aku akan menjadi Tang Sheng untuk Mochtar’," demikian kutipan dari buku tersebut.

Terlepas dari apakah keyakinan spiritual ini menjadi faktor penentu tunggal atau pelengkap dari kejelian bisnis mereka, kisah kedua tokoh ini menjadi bagian menarik dari sejarah ekonomi Indonesia. Ong Hok Liong dan Liem Sioe Liong berhasil membangun kerajaan bisnis bernilai miliaran dolar, meninggalkan jejak penting yang tak terhapuskan dalam lanskap industri tanah air.

Related Post