Bos IMF Guncangan Energi Belum Usai Dunia Waspada

Author Image

Endang Wulansari

31 Agustus 2026, 04:04 WIB

Meskipun ekonomi global menunjukkan ketahanan yang mengejutkan dalam menghadapi gejolak harga energi, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, mengeluarkan peringatan tegas: guncangan energi belum usai. Pernyataan ini, seperti dilansir jabarpos.id, menekankan bahwa dunia tidak boleh lengah, mengingat kondisi fiskal di sejumlah negara justru semakin memburuk di tengah potensi gejolak harga energi yang masih tinggi.

Dalam konferensi pers menjelang pertemuan menteri keuangan G20 di Asheville, Carolina Utara, pada 25 Agustus 2026, Georgieva mengungkapkan bahwa kemampuan ekonomi global menahan tekanan harga energi akibat konflik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz jauh melampaui ekspektasi. Ia menyebut, dunia berhasil melewati dampak tersebut berkat kombinasi faktor-faktor strategis.

Bos IMF Guncangan Energi Belum Usai Dunia Waspada
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Beberapa penopang utama termasuk pemanfaatan cadangan minyak dan gas oleh banyak negara, peningkatan pasokan energi dari luar kawasan Teluk, penurunan permintaan energi global, perluasan kapasitas energi terbarukan, hingga kembalinya penggunaan pembangkit listrik berbasis batu bara di beberapa wilayah. Selain itu, gelombang investasi kecerdasan buatan (AI) di Amerika Serikat, yang kini mulai merambah ke negara lain, turut menjaga kinerja laba korporasi dan belanja konsumen tetap kuat.

Namun, di balik ketahanan tersebut, Georgieva mengidentifikasi adanya "tarik-menarik" antara tekanan negatif dari gangguan pasokan energi di kawasan Teluk dan dorongan positif dari lonjakan investasi AI. Meski risiko terhadap prospek ekonomi global kini lebih seimbang dibandingkan proyeksi April lalu, arahnya tetap condong ke sisi negatif. Tekanan fiskal yang membesar serta kemungkinan bank sentral harus mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama untuk meredam inflasi menjadi penyebab utamanya.

Georgieva secara tegas mewanti-wanti agar para pembuat kebijakan tidak terlena, sekalipun harga minyak mentah acuan Brent saat ini bertahan di kisaran US$80-90 per barel, jauh di bawah puncaknya. "Guncangan energi ini belum berakhir," tegasnya. Ia memperingatkan bahwa lonjakan harga minyak yang kembali terjadi berpotensi memicu inflasi baru, yang pada gilirannya akan memaksa bank sentral mempertahankan kebijakan ketat dengan konsekuensi lanjutan pada biaya pembayaran utang dan aktivitas ekonomi secara umum.

Oleh karena itu, ia menyerukan agar seluruh negara segera membenahi persoalan fiskal masing-masing dengan menyusun rencana kredibel demi menjaga utang dan defisit tetap berada di jalur yang berkelanjutan. Peringatan ini muncul tak lama setelah imbal hasil obligasi Pemerintah AS tenor 30 tahun melonjak ke level tertinggi dalam 19 tahun terakhir, yang mendorong Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengambil langkah mengejutkan dengan menggandakan ukuran pembelian kembali obligasi jangka panjang.

Selain itu, Georgieva menegaskan bahwa bank sentral di berbagai negara harus tetap "fokus penuh" menjalankan mandat stabilitas harga, meskipun ia mengakui kebijakan moneter ketat berisiko menahan laju pertumbuhan ekonomi. Ia juga menyoroti urgensi mengatasi ketimpangan ekonomi global yang menjadi biang keladi ketegangan dagang. Tanpa menyebut nama secara langsung, Georgieva selama ini dikenal kerap mendorong Tiongkok untuk mengubah model pertumbuhan ekonominya, dari yang selama ini mengandalkan ekspor besar-besaran ke pasar global, menjadi lebih bertumpu pada konsumsi domestik.

Sebagai catatan, IMF pada Juli lalu telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi hanya 3,0%, seraya mewanti-wanti risiko tambahan dari perang di Timur Tengah, fragmentasi perdagangan, hingga ketidakpastian seputar AI. Proyeksi terbaru rencananya baru akan dirilis pada pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok, pertengahan Oktober mendatang. IMF juga tengah menyempurnakan model penilaian neraca eksternal dan akan memperdalam analisis terkait faktor-faktor pemicu ketimpangan global.

Related Post