Terkuak Rahasia Rupiah Menguat Melemah

Author Image

Endang Wulansari

6 September 2026, 04:04 WIB

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Filianingsih Hendarta, baru-baru ini membuka tabir di balik fluktuasi nilai tukar rupiah. Dalam sebuah sesi edukasi yang digelar di Lampung Financial Festival 2026, Sabtu (5/9/2026), Filianingsih memaparkan secara gamblang faktor-faktor krusial yang menentukan stabilitas mata uang Garuda terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Informasi ini dihimpun jabarpos.id.

Menurut Filianingsih, kunci utama menjaga agar rupiah tetap stabil adalah keseimbangan antara pasokan (supply) dan permintaan (demand) valuta asing, khususnya dolar AS. "Ini sebetulnya kalau kita bicara nilai tukar, itu sama seperti bicara supply demand," ujarnya, menegaskan analogi ekonomi dasar. Ia merinci, ketika pasokan dolar di pasar domestik melimpah sementara permintaannya relatif rendah, rupiah cenderung menguat. Namun, kondisi berbalik jika permintaan dolar melonjak saat ketersediaannya terbatas, yang akan mendorong kenaikan harga dolar dan menekan nilai rupiah.

Terkuak Rahasia Rupiah Menguat Melemah
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Lebih lanjut, Filianingsih menguraikan sumber-sumber utama pasokan valas bagi Indonesia. Ekspor menjadi pilar penting, di mana setiap transaksi ekspor menghasilkan devisa, termasuk dolar AS. Selain itu, investasi asing, baik dalam bentuk pembelian surat berharga maupun penanaman modal langsung di sektor riil, turut memperkaya cadangan valas domestik, memberikan dorongan positif bagi rupiah.

Di sisi lain, impor menjadi faktor utama pemicu peningkatan permintaan dolar. Pembayaran untuk barang dan jasa dari luar negeri mayoritas menggunakan valuta asing, sehingga lonjakan impor otomatis akan mengerek kebutuhan dolar. Arus dana keluar (outflow), yang terjadi ketika investor asing menarik asetnya dari Indonesia dan memulangkan dananya ke negara asal, juga secara signifikan meningkatkan permintaan valas, berpotensi melemahkan rupiah.

Filianingsih juga menggarisbawahi tiga pilar utama yang memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah: fundamental, struktural, dan sentimen. Faktor fundamental merujuk pada kesehatan neraca transaksi berjalan dan neraca perdagangan suatu negara. Sementara itu, faktor struktural berkaitan erat dengan dinamika keseimbangan pasokan dan permintaan valas yang melibatkan baik pelaku domestik maupun asing.

Adapun faktor sentimen, jelasnya, sangat dipengaruhi oleh kondisi global, termasuk gejolak geopolitik dan fluktuasi harga komoditas. Ia mencontohkan, konflik di Timur Tengah dapat memicu kenaikan harga minyak dunia, yang pada gilirannya akan meningkatkan permintaan dolar AS. "Pada saat ada perang di Timur Tengah, minyaknya naik, maka harga US dollar juga akan meningkat," tegasnya, menggambarkan keterkaitan kompleks antarvariabel ekonomi global.

Secara ringkas, Filianingsih menyimpulkan bahwa rupiah cenderung menguat ketika pasokan dolar meningkat, didorong oleh pertumbuhan ekspor dan masuknya investasi asing. Sebaliknya, rupiah berpotensi melemah saat kebutuhan dolar melonjak akibat impor yang tinggi atau arus modal keluar. Ia memberikan ilustrasi konkret: jika kurs turun dari Rp17.000 menjadi Rp15.000 per US$1, itu menandakan rupiah menguat karena dibutuhkan lebih sedikit rupiah untuk memperoleh satu dolar AS. Edukasi ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat akan pentingnya stabilitas mata uang nasional.

Related Post