Tiga Sinyal Krisis 97 Mengintai Ekonomi Asia

Author Image

Endang Wulansari

21 September 2026, 02:31 WIB

Bank raksasa HSBC mengeluarkan peringatan keras, menyoroti kemiripan kondisi pasar global saat ini dengan periode menjelang krisis keuangan Asia 1997. Analisis dari ekonom HSBC, seperti yang dilaporkan oleh jabarpos.id, menemukan tiga indikator utama yang membangkitkan memori kelam tersebut. Namun, penting untuk dicatat bahwa para ekonom bank tersebut juga menekankan perbedaan fundamental: ekonomi Asia saat ini jauh lebih kuat dibandingkan dua dekade lalu.

Frederick Neumann, Kepala Ekonom HSBC, menyoroti lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) sebagai kemiripan paling mencolok dengan periode menjelang krisis 1997. Ia menjelaskan bahwa proses kenaikan ini memakan waktu sekitar enam tahun. Menjelang krisis 1997, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun meroket dari sekitar 5% pada Oktober 1993 menjadi 8% pada November 1994, sebelum stabil di kisaran 7% pada April 1997. Saat ini, kita melihat pola serupa; yield tenor yang sama telah melonjak dari titik terendah sekitar 0,5% pada Agustus 2020 menjadi sekitar 4,79%, dengan kenaikan signifikan sekitar 80 basis poin sepanjang tahun ini dari level 3,9% pada Februari. Departemen Keuangan AS bahkan berencana menggandakan operasi pembelian kembali obligasi tenor 10 hingga 30 tahun, dari US$2 miliar menjadi US$4 miliar, atau setara dengan sekitar Rp35,49 triliun menjadi Rp70,98 triliun.

Tiga Sinyal Krisis 97 Mengintai Ekonomi Asia
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Kemiripan kedua yang mengkhawatirkan terlihat dari pergerakan yen Jepang. Pada April 1995, yen diperdagangkan di level 80 per dolar AS, namun melemah drastis menjadi 130 pada April 1997, mencatat depresiasi sekitar 55%. Dalam periode sekarang, yen kembali tertekan, melemah 57% dari sekitar 103 per dolar AS pada Januari 2021 hingga menyentuh 163 pada Juli lalu. Pelemahan ini terjadi sebelum intervensi gabungan dari Washington dan Tokyo berhasil menguatkan mata uang tersebut sedikit ke level 160, memicu spekulasi pasar akan adanya intervensi lanjutan.

Euforia teknologi menjadi kemiripan ketiga yang diidentifikasi oleh Neumann. Jika pada era 1990-an internet menjadi pemicu optimisme pasar yang berlebihan dan gelembung aset, Neumann melihat lonjakan industri kecerdasan buatan (AI) saat ini memiliki pola yang serupa dalam memicu antusiasme pasar yang masif.

Meskipun demikian, Neumann menegaskan bahwa kondisi fundamental Asia saat ini sangat berbeda. Pada tahun 1990-an, sebagian besar negara Asia adalah importir modal, sehingga sangat rentan terhadap kenaikan biaya pendanaan dalam dolar AS dan volatilitas yen. "Ekonomi Asia saat ini merupakan eksportir modal," jelas Neumann. Ini berarti kenaikan biaya pendanaan AS dan pelemahan yen tidak lagi menjadi sumber tekanan utama seperti yang terjadi pada era 1990-an.

Namun, bukan berarti Asia bebas dari kerentanan. Neumann memperingatkan bahwa ketergantungan kawasan terhadap permintaan perangkat keras AI di AS kini menjadi titik lemah baru. "Alih-alih kerentanan finansial seperti pada tahun 1990-an, Asia kini menghadapi kerentanan permintaan," katanya. Jika lonjakan AI melambat, hal ini dapat menekan ekspor elektronik dari negara-negara seperti Korea Selatan, Jepang, Taiwan, dan Singapura, yang pada gilirannya akan memperlambat pertumbuhan ekonomi di seluruh kawasan. Dengan demikian, meskipun fondasi ekonomi lebih kuat, Asia tetap harus waspada terhadap dinamika baru dalam rantai pasok global.

Related Post