Jabarpos.id – Lembaga keuangan internasional, Asian Development Bank (ADB), mengeluarkan peringatan serius terkait stabilitas ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Dalam laporan terbaru bertajuk Asian Development Outlook (ADO) edisi September 2026, ADB memproyeksikan adanya tekanan inflasi yang cukup signifikan di tanah air, khususnya pada tahun 2026 mendatang.
Berdasarkan data yang dirilis, ADB melakukan revisi naik terhadap angka inflasi Indonesia. Jika sebelumnya pada laporan bulan Juli 2026 inflasi diprediksi berada di angka 3%, kini proyeksi tersebut melonjak menjadi 3,3% untuk tahun 2026. Tren kenaikan ini juga diperkirakan akan berlanjut hingga tahun 2027, di mana inflasi diprediksi akan bergerak di kisaran 3%, naik dari estimasi sebelumnya yang hanya sebesar 2,5%.
Lonjakan tekanan harga ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan fenomena alam yang sulit diprediksi. Salah satu faktor utama yang disorot adalah gejolak harga minyak mentah dunia yang terus merambat ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Kenaikan harga energi global ini memberikan dampak domino terhadap biaya produksi dan distribusi barang di dalam negeri.
Also Read
ADB mencatat bahwa pemerintah Indonesia mengambil langkah moderat dalam menyikapi kenaikan harga minyak global. Pemerintah memilih untuk membiarkan harga bahan bakar nonsubsidi menyesuaikan dengan harga pasar dunia, namun tetap berupaya menjaga stabilitas harga bahan bakar bersubsidi agar tidak membebani masyarakat secara langsung. Langkah ini diambil untuk menyeimbangkan antara kesehatan fiskal negara dan daya beli masyarakat.
Selain faktor energi, fenomena cuaca ekstrem seperti El Niño yang berkepanjangan juga menjadi ancaman nyata bagi stabilitas harga pangan. Meskipun demikian, ADB memberikan catatan optimis bahwa inflasi harga pangan diperkirakan masih dapat dikendalikan. Hal ini didukung oleh ketersediaan cadangan beras yang memadai serta berbagai kebijakan pemerintah yang berfokus pada penguatan sektor produksi pertanian.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi tetap tangguh. ADB memperkirakan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia akan tumbuh stabil di angka 5,2% baik pada tahun 2026 maupun 2027. Angka pertumbuhan ini tidak mengalami perubahan dari laporan sebelumnya, menunjukkan bahwa fundamental ekonomi nasional masih cukup kuat di tengah tantangan inflasi.
Untuk memitigasi risiko ekonomi, ADB menekankan pentingnya koordinasi yang erat antara pemerintah dan bank sentral. Sinergi ini sangat krusial untuk menjaga ekspektasi inflasi di masyarakat agar tidak terjadi kepanikan pasar. Selain itu, penguatan infrastruktur irigasi, pengelolaan cadangan pangan yang strategis, serta penyaluran bantuan sosial yang tepat sasaran diharapkan dapat melindungi kelompok masyarakat rentan dari dampak kenaikan harga pangan akibat perubahan iklim.
Melalui langkah-langkah mitigasi yang komprehensif, ADB meyakini bahwa tekanan inflasi akan mulai mereda pada tahun 2027, seiring dengan kembalinya angka inflasi umum ke titik tengah rentang target yang telah ditetapkan pemerintah. (jabarpos.id)






