Suku Bunga BI Diprediksi Tetap Tinggi

Author Image

Endang Wulansari

24 September 2026, 08:04 WIB

Jabarpos.id – Langkah Bank Indonesia (BI) dalam mengelola kebijakan moneter diprediksi akan tetap berhati-hati dalam waktu dekat. Asian Development Bank (ADB) memberikan proyeksi bahwa bank sentral tanah air kemungkinan besar akan mempertahankan tingkat suku bunga acuan atau BI Rate hingga penghujung tahun 2026.

Berdasarkan laporan terbaru dalam Asian Development Outlook edisi September 2026, BI diperkirakan akan terus mengadopsi sikap yang prudent atau sangat waspada. Hal ini menyusul keputusan Dewan Gubernur BI pada September 2026 yang tetap menahan suku bunga di level 5,75 persen. Keputusan ini menandai tren suku bunga yang tidak berubah selama empat bulan berturut-turut sejak pertemuan pada Juni 2026 lalu.

Suku Bunga BI Diprediksi Tetap Tinggi
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Tim ekonom ADB menjelaskan bahwa kebijakan moneter yang ketat ini diambil sebagai respons terhadap kondisi keuangan global yang masih penuh ketidakpastian. Selain itu, volatilitas arus modal yang dapat memengaruhi nilai tukar rupiah menjadi alasan utama mengapa BI harus tetap waspada. Fokus utama bank sentral saat ini adalah menjaga stabilitas harga di dalam negeri serta memastikan nilai tukar rupiah tetap terjaga dari guncangan eksternal.

Meski suku bunga ditahan di level yang cukup tinggi, ADB melihat bahwa kondisi likuiditas dan intermediasi keuangan di Indonesia masih berada dalam jalur yang positif. Hal ini terlihat dari pertumbuhan penyaluran kredit perbankan yang terus menunjukkan tren peningkatan. Data per Agustus 2026 mencatat pertumbuhan kredit mencapai 13,65 persen secara tahunan (year-on-year), sedikit melampaui angka pertumbuhan pada Juli 2026 yang berada di level 13,58 persen.

Ketersediaan likuiditas yang cukup serta adanya insentif makroprudensial diharapkan dapat menjadi mesin penggerak bagi sektor-sektor prioritas dan investasi. ADB meyakini bahwa meskipun suku bunga tetap tinggi, aktivitas ekonomi domestik tidak akan terhambat secara signifikan berkat dukungan kebijakan makroprudensial yang tepat sasaran.

Menatap masa depan, prospek ekonomi Indonesia terlihat semakin cerah pada tahun 2027. ADB memprediksi tekanan inflasi impor akan mulai mereda seiring dengan menurunnya harga energi global. Kondisi ini, ditambah dengan intermediasi keuangan yang stabil, akan memberikan dorongan kuat bagi permintaan domestik dan investasi.

Selain itu, posisi eksternal Indonesia diperkirakan akan mengalami perbaikan secara bertahap. Meskipun permintaan domestik yang kuat menjaga angka impor tetap tinggi, penurunan harga minyak dunia diharapkan mampu menekan biaya impor energi. Hal ini diprediksi akan memperkuat neraca perdagangan dan membantu menyusutkan defisit transaksi berjalan yang sempat melonjak pada triwulan kedua 2026.

Sentimen positif investor terhadap Indonesia juga menjadi faktor kunci. Dengan peringkat utang negara yang tetap berada pada level layak investasi (investment-grade) serta masuknya Indonesia ke dalam indeks pasar negara berkembang MSCI, aliran modal asing diprediksi akan terus mengalir masuk. Kombinasi antara imbal hasil domestik yang menarik dan stabilitas ekonomi diharapkan dapat memperkuat cadangan devisa, sehingga membuka peluang bagi BI untuk menerapkan kebijakan moneter yang lebih akomodatif pada tahun mendatang.

Related Post