Jabarpos.id – Mata uang rupiah kini tengah berada dalam posisi yang cukup rentan terhadap guncangan ekonomi global. Sejumlah pakar ekonomi memberikan peringatan keras bahwa nilai tukar rupiah berpotensi mengalami pelemahan yang cukup signifikan. Bahkan, muncul sebuah skenario risiko di mana rupiah diprediksi bisa menembus level psikologis Rp18.200 per dolar Amerika Serikat (AS).
Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi pelaku pasar dan masyarakat luas, mengingat pelemahan nilai tukar dapat berdampak langsung pada stabilitas ekonomi nasional, termasuk kenaikan harga barang impor. Meski saat ini rupiah masih bergerak di kisaran angka tertentu, bayang-bayang depresiasi yang lebih dalam terus menghantui.
Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa potensi rupiah menyentuh angka Rp18.200 per dolar AS bukanlah hal yang mustahil jika tekanan dari pasar global tidak kunjung mereda. Menurutnya, jika dilihat dari persentase, selisih antara level Rp18.000 ke Rp18.200 sebenarnya tidak terlalu besar, yakni hanya sekitar 1 persen lebih lemah. Namun, angka tersebut tetap menjadi ancaman nyata jika kondisi ekonomi dunia terus memburuk.
Also Read
Josua memaparkan ada tiga faktor utama yang jika terjadi secara bersamaan, akan menjadi "badai sempurna" bagi pelemahan rupiah. Faktor pertama adalah harga minyak mentah dunia yang masih tertahan di level tinggi, yakni di atas US$ 100 per barel. Harga energi yang mahal biasanya memicu inflasi dan tekanan pada neraca perdagangan.
Faktor kedua adalah imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun yang tetap bertahan di atas angka 5 persen. Tingginya imbal hasil di AS membuat investor cenderung menarik dana mereka dari negara berkembang untuk dipindahkan ke aset yang dianggap lebih aman di Amerika. Faktor ketiga adalah terjadinya arus modal keluar (outflow) secara masif dari pasar keuangan Indonesia. Jika ketiga kondisi ini terjadi serentak, maka tekanan terhadap rupiah akan semakin berat.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Center of Macroeconomics and Finance di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), M. Rizal Taufikurahman, juga memperingatkan bahwa peluang rupiah menyentuh level Rp18.200 terbuka lebar dalam beberapa pekan ke depan. Rizal menekankan bahwa jarak antara Rp18.000 ke Rp18.200 hanya terpaut sekitar 1,1 persen, sehingga ini merupakan skenario risiko yang sangat mungkin terjadi dan harus diantisipasi oleh semua pihak.
Menurut Rizal, penguatan dolar AS yang terus berlanjut, ditambah dengan kebutuhan valuta asing yang tinggi serta arus modal keluar, akan menjadi pendorong utama jatuhnya nilai tukar rupiah.
Berdasarkan data pasar terbaru, rupiah sempat menunjukkan pergerakan yang fluktuatif. Meskipun sempat mengalami apresiasi tipis, ketidakpastian global tetap membuat posisi rupiah berada di ujung tanduk. Para pengamat menyarankan agar pemerintah dan otoritas moneter tetap waspada terhadap dinamika ekonomi global guna menjaga stabilitas nilai tukar di masa mendatang. Melansir laporan dari jabarpos.id, penguatan tipis yang terjadi belakangan ini belum mampu sepenuhnya meredam kekhawatiran pasar akan potensi pelemahan yang lebih dalam.






