Jabarpos.id – Maskapai nasional PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) tengah menyiapkan langkah besar untuk memperkuat struktur permodalan perusahaan. Melalui rencana penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) III atau yang lebih dikenal sebagai rights issue jumbo, maskapai pelat merah ini berupaya melakukan langkah drastis dalam rangkaian restrukturisasi keuangan guna menyehatkan kondisi bisnisnya.
Rencana aksi korporasi ini bukan sekadar menambah jumlah saham yang beredar, melainkan bagian dari strategi kompleks yang melibatkan pengalihan aset dan penyertaan modal non-tunai. Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Garuda Indonesia berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 124.352.806.609 saham Seri E dengan nilai nominal Rp25 per saham.
Langkah ini merupakan tindak lanjut dari skema inbreng atau penyetoran modal dalam bentuk aset berupa lahan milik PT Aviasi Pariwisata Indonesia (API) kepada PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI). Proses ini memiliki efek domino pada struktur kepemilikan saham, di mana kepemilikan GIAA di GMFI akan mengalami dilusi, sehingga API akan bertransformasi menjadi pemegang saham mayoritas di anak usaha tersebut, meski Garuda tetap memegang kendali sebagai pemegang saham pengendali.
Also Read
Mekanisme pendanaan rights issue ini tergolong unik. PT Danantara Asset Management (DAM), selaku pemegang saham utama Garuda saat ini, akan mengambil bagian haknya melalui penyetoran dalam bentuk saham GMFI. Hal ini dilakukan melalui skema pembagian dividen dalam bentuk selain uang (dividend in specie) yang mengalir dari API ke InJourney, lalu diteruskan ke DAM.
Berdasarkan hasil RUPS yang telah dilakukan, nilai saham GMFI yang akan dialihkan sebagai objek penyetoran modal tersebut diperkirakan mencapai Rp5,664 triliun. Setelah seluruh proses administrasi dan persetujuan antar-entitas terpenuhi, saham GMFI tersebut akan digunakan untuk memenuhi hak HMETD milik DAM. Di sisi lain, masyarakat atau pemegang saham publik diharapkan akan menyetorkan modalnya dalam bentuk uang tunai.
Lantas, untuk apa dana besar tersebut digunakan? Garuda Indonesia telah memetakan penggunaan dana hasil rights issue ini dengan sangat spesifik. Dana yang terkumpul setelah dikurangi biaya emisi akan digunakan untuk memperoleh saham GMFI melalui penyertaan modal DAM secara non-tunai. Langkah ini diharapkan mampu memberikan dampak instan pada perbaikan neraca keuangan perusahaan serta memperkuat dukungan terhadap kegiatan operasional harian.
Selain itu, sisa dana yang diperoleh dari setoran tunai publik akan dialokasikan sebagai modal kerja. Dana segar ini sangat krusial untuk mendukung rencana transformasi besar-besaran yang tengah dijalankan perusahaan. Pada tahun 2026, fokus utama Garuda adalah pada stabilisasi dan pemulihan ketahanan operasional. Sementara itu, memasuki tahun 2027, Garuda Indonesia Group menargetkan perbaikan struktural yang lebih mendalam, mulai dari peningkatan kualitas sumber daya manusia, optimalisasi proses bisnis, hingga penguatan kapabilitas digital guna menghadapi persaingan industri penerbangan global.






