Rupiah Tertekan Bukan Karena Masalah Domestik

Author Image

Endang Wulansari

9 Oktober 2026, 18:31 WIB

Jabarpos.id – Meskipun kondisi ekonomi dalam negeri menunjukkan tren yang positif, nilai tukar rupiah nampaknya masih harus berjuang menghadapi badai dari luar negeri. Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menegaskan bahwa pelemahan mata uang Garuda saat ini bukan disebabkan oleh rapuhnya fundamental ekonomi nasional, melainkan akibat tekanan kuat yang datang dari pasar global.

Berdasarkan data terbaru, performa ekonomi Indonesia sebenarnya masih berada di jalur yang tepat. Hingga kuartal II-2026, pertumbuhan ekonomi nasional tercatat mampu menyentuh angka 5,29 persen. Selain pertumbuhan yang stabil, tingkat inflasi di Indonesia juga dinilai masih dalam batas yang aman dan dapat dikendalikan, meskipun sempat terjadi sedikit kenaikan pada sektor harga pangan atau volatile food di bulan September lalu.

Rupiah Tertekan Bukan Karena Masalah Domestik
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

"Faktor yang memengaruhi rupiah itu sangat beragam dan tidak melulu soal kondisi domestik. Padahal, kalau kita lihat pertumbuhan ekonomi kita sejauh ini sangat oke, bahkan pada kuartal II-2026 masih tumbuh di angka 5,29 persen. Inflasi pun masih dalam kategori manageable atau masih bisa dikelola," ujar Destry dalam sebuah wawancara eksklusif yang dilansir pada Jumat (9/10/2026).

Destry menjelaskan bahwa salah satu pemicu utama depresiasi rupiah adalah fenomena capital flight atau pelarian modal secara global. Dalam situasi ketidakpastian ekonomi dunia, investor asing cenderung menarik dana mereka dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk dipindahkan kembali ke negara asal atau ke aset-aset yang dianggap lebih aman (safe haven).

"Ada potensi capital flight global, di mana investor mencari aset yang dianggap relatif aman. Dalam hal ini, dolar AS masih menjadi primadona bagi mereka. Akibatnya, kita melihat adanya arus modal keluar (capital outflow) dari negara-negara berkembang, termasuk dari pasar Indonesia," tambah Destry.

Dampak dari fenomena ini tidak hanya menyerang nilai tukar, tetapi juga merembet ke pasar surat berharga. Investor asing mulai melepas kepemilikan mereka pada Surat Berharga Negara (SBN), yang menyebabkan terjadinya arus keluar modal yang cukup signifikan pada instrumen tersebut, termasuk pada instrumen SRBI.

Selain masalah pelarian modal, tekanan terhadap rupiah juga dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap inflasi global dan risiko fiskal di berbagai belahan dunia. Situasi geopolitik turut memperkeruh suasana, terutama dengan melonjaknya harga minyak mentah hingga menembus angka US$108 per barel akibat belum adanya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz.

Kondisi ini diperparah dengan meningkatnya permintaan valuta asing oleh para importir menjelang penutupan kuartal III-2026. Namun, jika dibandingkan dengan mata uang di kawasan regional, pergerakan rupiah sebenarnya masih tergolong wajar. Secara quarter-to-date (qtd), pelemahan rupiah tercatat masih terbatas, yakni sekitar 0,67 persen, yang menunjukkan bahwa ketahanan ekonomi domestik masih mampu meredam guncangan global secara terbatas.

Related Post