Utang Negara Aman Meski Dolar Bergoyang

Author Image

Endang Wulansari

9 Oktober 2026, 15:31 WIB

Jabarpos.id – Pemerintah Indonesia memberikan jaminan tegas terkait stabilitas utang negara di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Meskipun kondisi ekonomi global sering kali memicu ketidakpastian, pemerintah memastikan bahwa beban utang yang diterbitkan sepanjang tahun ini tetap terkendali dan tidak akan terganggu oleh gejolak mata uang asing.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Suminto, mengungkapkan bahwa strategi pengelolaan utang yang dilakukan pemerintah selama ini sangat memperhatikan mitigasi risiko nilai tukar. Berdasarkan data terbaru, komposisi utang pemerintah hingga semester I-2026 menunjukkan struktur yang sangat sehat dan aman.

Utang Negara Aman Meski Dolar Bergoyang
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Dari total utang pemerintah yang tercatat mencapai Rp10.293,69 triliun atau setara dengan 41,26% dari Produk Domestik Bruto (PDB), mayoritas utang tersebut berada dalam mata uang domestik. Suminto menjelaskan bahwa sebanyak 70,2% utang pemerintah menggunakan denominasi rupiah, sementara sisanya sebesar 29,8% menggunakan mata uang asing atau valuta asing (valas).

"Dengan komposisi utang dalam rupiah yang mencapai 70,2%, risiko terhadap fluktuasi nilai tukar dapat terjaga dengan baik," ujar Suminto dalam keterangannya pada Jumat (9/10/2026).

Selain struktur utang yang didominasi rupiah, pemerintah juga memiliki strategi cerdas dalam menghadapi kewajiban pembayaran utang yang jatuh tempo. Pemerintah memanfaatkan pendapatan negara yang juga diterima dalam bentuk valuta asing, seperti penerimaan pajak dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari transaksi luar negeri. Hal ini menciptakan keseimbangan alami yang meminimalisir kebutuhan konversi mata uang secara besar-besaran saat pembayaran utang valas tiba.

Lebih lanjut, Suminto menekankan bahwa komposisi utang tahunan selalu dijaga agar tetap sesuai dengan profil risiko portofolio. Sebagai gambaran, pada tahun 2025, utang dalam bentuk valas didominasi oleh dolar AS sebesar 19,81%. Sisanya tersebar ke mata uang lain seperti Euro sebesar 5,94%, Yen Jepang sebesar 2,71%, dan mata uang lainnya sebesar 0,5%.

Kondisi ini menjadi sangat relevan mengingat pergerakan nilai tukar rupiah yang cukup dinamis. Meskipun sempat mengalami penguatan, rupiah masih bergerak di kisaran atas Rp17.800 per dolar AS. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah sempat dibuka pada level Rp17.855/US$, menguat tipis 0,20% dibandingkan penutupan sebelumnya.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang menjadi indikator kekuatan mata uang Amerika terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau mengalami pelemahan tipis sebesar 0,15% ke posisi 101,988. Dengan manajemen utang yang terukur, pemerintah optimis stabilitas fiskal nasional akan tetap terjaga meskipun dinamika ekonomi global terus berubah.

Related Post