Jabarpos.id – Dunia saat ini tengah berada dalam pusaran ketidakpastian ekonomi yang cukup pelik. Fenomena yang dikenal dengan istilah ‘higher for longer’ atau tren suku bunga tinggi yang bertahan dalam jangka waktu lama kini menjadi ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi global. Kondisi ini menjadi tantangan berat, terutama bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia yang harus ekstra waspada dalam menjaga ketahanan ekonominya.
Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, memberikan peringatan mengenai situasi ini. Menurutnya, tren suku bunga tinggi yang dipatok oleh bank sentral negara-negara maju bukan tanpa alasan. Hal ini merupakan respons terhadap berbagai variabel ekonomi global yang masih sangat fluktuatif dan sulit diprediksi.
Destry menjelaskan bahwa beberapa faktor utama yang memicu fenomena ini adalah inflasi global yang tetap tinggi, melonjaknya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah, serta kebijakan bank sentral negara maju yang cenderung bersikap hawkish atau agresif dalam menaikkan suku bunga.
Also Read
"Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah kondisi global. Hal ini memaksa kita untuk terus berlari maraton karena ketidakpastian yang masih sangat tinggi," ujar Destry dalam sebuah diskusi ekonomi yang dikutip pada Jumat (10/10/2026). Ia menambahkan bahwa faktor geopolitik turut memperkeruh suasana, terutama dampaknya terhadap kenaikan harga minyak dunia yang memicu inflasi lebih lanjut.
Salah satu contoh nyata yang disoroti adalah kondisi di Amerika Serikat (AS). Destry memaparkan bahwa AS tengah berjuang keras melawan inflasi. Meskipun target inflasi mereka berada di angka 2 persen, realitanya saat ini sudah melampaui 3 persen. Kondisi serupa juga terjadi di negara-negara maju lainnya, di mana inflasi mencapai angka 4,6 persen dari target awal 3 persen.
Selain masalah inflasi, defisit fiskal di Amerika Serikat juga menjadi perhatian serius. Defisit yang nyaris menyentuh angka 6 persen memaksa pemerintah AS untuk menerbitkan lebih banyak obligasi dibandingkan kondisi normal. Lonjakan pasokan obligasi ini secara otomatis mendorong kenaikan yield obligasi pemerintah. Untuk meredam kenaikan yield dan menekan inflasi, bank sentral AS (The Fed) akhirnya terpaksa mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga acuannya.
Dampak dari kebijakan ini sangat terasa bagi negara berkembang. Ketika suku bunga di negara maju naik, investor cenderung menarik modal mereka dari pasar negara berkembang untuk dipindahkan kembali ke negara asal mereka yang dianggap lebih aman. Fenomena ini dikenal dengan istilah capital flight to quality.
"Ada penguatan dolar AS dan kenaikan bond yield, yang memicu aliran modal keluar dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Ini adalah dampak langsung yang paling terasa di pasar keuangan kita," pungkas Destry. Oleh karena itu, Bank Indonesia harus menyiapkan strategi "napas panjang" untuk menghadapi dinamika pasar yang tidak menentu ini.





